Sunday, 15 March 2015

SEJARAH PENDAKIAN DAN PANJAT TEBING

SEJARAH
PENDAKIAN
GUNUNG DAN PANJAT TEBING

1492 Sekelompok orang Perancis di
bawah pimpinan Anthoine de Ville
mencoba untuk memanjat tebing Mont
Aiguille (2.097 m), di kawasan Vercors
Massif. Tak jelas benar tujuan mereka,
tapi yang jelas sampai beberapa dekade
kemudian, orang-orang yang naik turun
tebing-tebing batu di Pegunungan Alpen
adalah para pemburu chamois, sejenis
kambing gunung. Jadi mereka memanjat
untuk mata pencaharian, kurang lebih
mirip para pengunduh sarang burung
wallet gua di tebing-tebing Kalimantan
Timur atau Karangbolong Jawa Tengah.
1623 Yan Carstenz adalah orang Eropa
pertama yang melihat "pegunungan yang
sangat tinggi, di beberapa tempat
tertutup salju!" di perdalaman Irian. Salju
itu sangat dekat ke Khatulistiwa.
Laporannya tidak dipercaya di Eropa,
padahal belum lama berselang
diberitakan ada juga salju di pegunungan
Andes, masih dekat Khatulistiwa.
1624 Masih berkaitan dengan pekerjaan,
pastor-pastor Jesuit merupakan orang-
orang Eropa pertama yang melintasi
pegunungan Himalaya, tepatnya di Mana
Pass (Pass = pelana / punggungan yang
terentang di antara dua puncak), dari
Gharwal di India ke Tibet.
1760 Professor de Saussure agaknya
begitu jatuh cinta pada Mont Blanc di
perbatasan Perancis - Italia, sehingga dia
menawarkan hadiah besar bagi siapa saja
yang bisa menemukan lintasan ke
pincaknya, untuk penelitian ilmiah yang
diimpikannya. Sayang, tidak ada yang
tertarik, terutama karena ngeri terhadap
naga-naga yang konon menghuni puncak
gunung tertinggi di Eropa Barat itu.
1786 Setelah beberapa percobaan gagal,
puncak Mont Blanc (4.807 m) akhirnya
berhasil digapai manusia, mereka adalah
Dr. Michel Gabriel Paccard dan seorang
pemandu gunung, Jacquet Balmat.
Puncak tertinggi yang di Alpen yang
berhasil didaki sebelumnya adalah
Lysjoch (4.153 m), tahun 1778.
1830 Alexander Gardiner melintasi
Karakoram Pass dari Sinkiang, China ke
Kashmir, India.
1852 Ahli-ahli ukur tanah di India berhasil
menentukan ketinggian puncak XV (8.840
m). Ini merupakan puncak tertinggi di
dunia, mengalahkan puncak VII
(Kangcenjunga, 8.598 m) yang
sebelumnya dianggap puncak paling
tinggi. Puncak XV ini kemudian diberi
nama Everest, sesuai dengan nama
kepala divisi ukur tanah di India
berkebangsaan Inggris, Sir George
Everest (orang Nepal menyebut puncak
ini dengan nama Sagarmatha, sedangkan
orang Tibet menyebutnya Chomolungma).
Belakangan ketinggiannya dikoreksi
menjadi 8.888 m, kemudian dikoreksi lagi
menjadi 8.848 meter, sampai sekarang.
1853 Batu pertama jaman keemasan
dunia keemasan di Alpen diletakkan oleh
Alfred Wills dalam pendakiannya ke
puncak Wetterhorn (3.708 m), cikal bakal
pendakian gunung sebagai olah raga.
1857 Alpine Club yang pertama berdiri di
Inggris.
1858 Ketinggian K2 (singkatan
Karakoram Number 2) terukur, 8.610 m,
menggeser lagi kedudukan
Kangchenjunga menjadi posisi 3.
1865 Dinding Selatan Mont Blanc sipanjat
untuk pertama kali melalui lintasan Old
Brenva, menandai lahirnya panjat es (ice
climbing). Di Alpen bagian tengah,
Edward Whymper dan enam rekannya
berhasil mencapai puncak Matterhorn
(4.474 m), Swiss. Tapi empat orang
anggota tim yang saling terkait dalam
satu tali tewas dalam perjalanan turun,
ketika salah seorang jatuh dan menyeret
yang lainnya. Musibah ini mengakhiri
sebelas tahun jaman keemasan. Lebih
dari 180 puncak besar telah didaki dalam
masa itu, sedikitnya satu kali, dan lebih
dari setengahnya dilakukan para pendaki
Inggris.
1874 WA Coolidge mendaki puncak
Jungfrau dan Wetterhorn pada musim
dingin, sehingga dijuluki Mr. Winter
Climbing. Tahun 1870-an ini muncul trend
baru, yaitu pendakian tanpa didampingi
pemandu, yang segera menjadi ukuran
kebanggaan diantara para pendaki.
1878 Regu yang dipimpin Clinton Dent
berhasil memanjat Aiguille de Dru di
Perancis, memicu trend baru lagi, yaitu
pemanjatan tebing-tebing yang tidak
terlalu tinggi tetapi cukup curam dan
sulit. Banyak orang menganggap
peristiwa ini sebagai kelahiran panjat
tebing.
1883 WW Graham menjadi orang pertama
yang mengunjungi pegunungan Himalaya
dengan tujuan mendaki gunung sebagai
olah raga dan petualangan. Dia mendaki
beberapa puncak rendah di kawasan
Nanda Devi dan Sikkim, India. Konon
khabarnya dia juga berhasil menggapai
puncak Changabang (6.864 m).
1895 Percobaan pertama pendakian
gunung diatas 8.000 m, yaitu Nanga
Parbat (8.125 m) oleh AF Mummery.
Pendaki Inggris yang sering disebut
Bapak Pendakian Gunung Modern ini
hilang di ketinggian sekitar 6.000 m.
1899 Ekspedisi Belanda pembuat peta di
Irian menemukan kebenaran laporan Yan
Carstensz hampir 3 abad sebelumnya
tentang "pegunungan yang sangat tinggi,
di beberapa tempat tertutup salju!" di
perdalaman Irian. Maka namanya
diabadikan sebagai nama puncak yang
kemudian ternyata merupakan puncak
gunung tertinggi di Indonesia.
1902 Percobaan pertama mendaki K2
oleh tim ekspedisi dari Inggris,
hasilnya ?. gagal !!!!!!!!!
1907 Ekspedisi di bawah pimpinan Tom
Longstaff mendaki Trisul (7.120 m),
puncak 7.000-an pertama yang berhasil di
daki manusia. Longstaff adalah orang
pertama yang mencoba penggunaan
tabung oksigen dalam pendakian.
1909 Ekspedisi Persatuan Ahli Burung
dari Inggris (BPUE), memasuki rawa-rawa
sebelah selatan kawasan Carstensz.
Dalam masa 16 bulan pada ekspedisi ini,
16 orang meninggal dan 120 orang sakit.
1910 Carabineer (cincin kait) untuk
pertama kali dipergunakan dalam
pendakian gunung oleh pemanjat-
pemanjat dari Munich, Jerman.
Penggunaannya diilhami oleh pasukan
pemadam kebakaran.
1911 Mantan anggota ekspedisi BPUE
1909, Dr. AFR Wollaston, kembali ke Irian
bersama C. Bodden Kloss dengan 224
pengangkut barang dan serdadu. Mereka
sampai di bagian Timur kawasan
Carstensz dengan menyusuri sungai
Otowka dari Selatan. Kali ini tiga orang
melayang jiwanya.
1921 George L. Mallory dkk, berhasil
mencapai North Col Everest, dalam
perjalanan penjajagan mereka dari sisi
Tibet.
1922 Usaha pertama mendaki Everest,
berakhir pada ketinggian 8.320 m di
punggungan timur laut. Hasilnya ??..
gagal !!!!!!
1924 Mallory dan Irvina, kembali
mencoba mendaki Everest. Keduanya
hilang di ketinggian sekitar 8.400 meter.
Rekannya, Edward Norton mencapai
8.570 meter, rekaan ketinggian waktu itu,
sendirian dan tanpa rabung oksigen.
1931 Schimdt bersaudara mencapai
puncak Matterhorn lewat dinding utara,
sekaligus melahirkan demam north wall
climbing.
1932 UIAA (Union Internationale
Association de Alpinisme) berdiri di
Perancis.
1933 Comici dari Italia memanjat
overhang dinding utara Cima Grande
Laverdo dikawasan Dolomite, Alpen
Timur, menandai aid climbing (panjat
tebing menggunakan alat bantu untuk
menambah ketinggian) yang pertama.
1934 Dr. Karl Prusik memelopori
penggunaan tali kecil dengan simpul
khusus untuk menggantung dan meniti
tali yang lebih besar. Sampai sekarang
tali kecil dan simpul ini dikenal dengan
istilah prusik. Meniti tali dengan
menggunakan tali kecil dan simpul ini
disebut prusiking.
1936 Dr. AH Colijn, manajer umum
sebuah perusahaan tambang menemukan
dinding timur Gletser Moriane, tak jauh
dari kawasan Carstensz. Gunung bijih itu
dinamakan Erstbergh, yang nantinya
menjadi tambang utama PT. Freeport.
1938 Dinding utara Eiger di Swiss
akhirnya berhasil di panjat oleh tim
gabungan Jerman dan Austria.
Sebelumnya Hitler menjanjikan mereka
medali setingkat medali emasnya
Olimpiade. Mereka adalah Anderl
Heckmair, Ludwig Forg, Fritz Kasparek
dan Heinrich Harrer. Tebing maut ini
sebelumnya telah menelan cukup banyak
korban dan berlanjut sampai sekarang.
1941 Ekspedisi Archbold menemukan
lembah Baliem, kantong Suku Dani yang
tingkat kebudayaannya amat tinggi,
ditengah hutan belantara, seolah tak
terbatas dan tak tertembus. Irian semakin
menjadi pusat perhatian para ilmuwan
dunia.
1949 Nepal membuka perbatasannya bagi
orang luar, memancing maraknya
pendakian di kawasan atap dunia itu.
1950 Tibet dikuasai Cina. Pendakian
Himalaya di sisi ini tidak diperkenankan
lagi.
Maurice Herzog memimpin ekspedisi
Perancis mendaki Annapurna (8.091 m),
puncak 8.000-an yang pertama berhasil di
daki, menandai awal 20 tahun jaman
keemasan pendakian di Himalaya.
Di Alpen, tali nylon mulai dipergunakan.
Tali serat tumbuhan yang sebelumnya
biasa dipakai, hampir tak memiliki
kelenturan, sehingga ada aturan bahwa
seorang perintis jalur pemanjatan (leader)
tidak boleh jatuh, sebab hampir pasti
pinggangnya akan patah tersentak.
Pakaian bulu angsa mulai membuat
malam-malam di bivouac lebih nyaman
dan pendakian keesokan harinya lebih
efektif.
1951 Don Whillan menemukan
pasangannya, Joe Brown. Mereka
menjadi duet pemanjat terkuat yang
pernah dimiliki Inggris. Panjat bebas
(free climbing) gaya Inggris segera
menjadi tolok ukur dunia panjat tebing.
Walter Bonatti dkk menyelesaikan dinding
timur Grand Capucin, awal aid climbing
pada tebing yang masuk dalam kategori
dinding besar (big wall).
Bermula terjadinya revolusi cadas di
Inggris, tebing kapur ternyata tidak
serapuh yang diduga selama ini, sehingga
tebing ini mulai banyak dipanjat
menyaingi tebing granit dan batuan beku
lainnya.
1952 Herman Buhl memanjat solo di
dinding timur laut Piz Badile, Swiss
dalam waktu 4 ? jam. Inilah awal speed
climbing (pemanjatan yang
mengutamakan kecepatan). Rekor waktu
sebelumnya pada lintasan itu adalah 52
jam, dibuat tahun 1937.
1953 Heman Buhl dkk mencapai puncak
Nanga Parbat, puncak 8.000-an kedua
yang didaki orang.
Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan
Sherpa Tenzing Norgay dari Nepal, yang
tergabung dalam ekspedisi Inggris,
menjadi manusia pertama yang berdiri di
atap dunia, Everest.
Mountain Travel, biro perjalanan pertama
yang melayani ekspedisi pendakian
gunung, didirikan di Kathmandu, Nepal.
Dengan tumbuhnya agen-agen seperti ini,
sebagian kerumitan pengelolaan
ekspedisi dapat dikurangi, sehingga
pendaki lebih konsentrasi pada
pendakiannya. Tetapi di sisi lain juga
mengundang kecurangan-kecurangan,
seperti pembukaan jalur oleh pemandu
setempat, sehingga pendaki tinggal
mengikuti atau bahkan di tuntun.
1954 Ekspedisi Inggris sukses mencapai
puncak Kanchenjunga, sedangkan
ekspedisi Perancis sukses di Makalu
(8.463 m).
Suatu alat berpegas ditemukan,
menyaingi fungsi prusik untuk memanjat
tali. Nama alat ini adalah ascendeur (alat
untuk naik), tapi sering disebut juga
jumar, gabungan nama penemunya yaitu
Adolf Jusi dan Walter Marti, dari Swiss.
1956 Ekspedisi dari Jepang berhasil
mendaki Manaslu (8.163 m). Jepang
segera menjadi salah satu negara besar
di dunia pendakian Himalaya.
1957 Herman Buhl dan tim Austria
mencapai puncak Broad Peak (8.047 m),
sekaligus menandai pendakian gunung
8.000-an dengan teknik alpine tactic.
1958 Lapangan terbang perintis dibuka
pada beberapa lokasi di Irian,
membangkitkan semangat para pendaki
gunung untuk menjajal Carstensz, sang
perawan salju Khatulistisa.
1959 Claudio Barbier dari Belgia, mendaki
solo 3 (tiga) dinding utara Tre Cima
Laverdo dalam 1 hari, ini adalah pertama
kali speed climbing menggunakan teknik
gabungan free dan artificial climbing.
Helm mulai digunakan para pendaki
tebing. Sabuk pengaman (harness)
menjadi wajib, menyusul kematian
seorang pemanjat Inggris di Dolomite.
Tebing 48 di Citatah mulai dipakai
sebagai ajang latihan oleh pasukan TNI
AD.
1961 Ekspedisi dari Selandia Baru
mencoba mendaki Carstenz Pyramide.
Gagal karena keterlambatan dukungan
logistik lewat jembatan udara. Mereka
menemukan jalan dari utara lewat celah
yang kemudian dinamakan New Zealand
Pass.
1962 Puncak Carstenz akhirnya berhasil
dicapai oleh tim pimpinan Heinrich
Harrer.
Puncak Eidenburg, juga di Irian, berhasil
di daki oleh ekspedisi yang dipimpin
Philip Temple.
Baut tebing mulai diperkenalkan
penggunaannya di pegunungan Alpen.
Pemanjat-pemanjat Amerika mulai
terkenal di Alpen, diawali oleh Hemmings
dan Robbins yang menciptakan lintasan
super sulit di dinding barat du Dru.
1963 Tim gabungan Inggris dan Amerika
memanjat dinding selatan Auguille du
Fou, yang waktu itu dianggap sebagai
pemanjatan tersulit di Alpen dengan
menggunakan teknik-teknik aid climbing
gaya Amerika.
Kode etik dalam panjat tebing mulai
banyak diperdebatkan di kalangan
pemanjat.
Seorang ahli gletser yang baru kembali
dari Antartika berusaha mendaratkan
pesawat terbang kecilnya di Puncak Jaya
dekat Carstensz. Untung angin kencang
mengurungkan niatnya, sebab salju tebal
disana terlalu lunak untuk landasan. Tapi
dua pesawat pendukung DC-3 kandas di
lereng utara dan selatannya, pada
ketinggian sekitar 4.300 m.
Reruntuhannya masih bisa ditemukan
sampai sekarang.
1964 Beberapa pendaki Jepang dan 3
orang Indonesia, yaitu Fred Athaboe,
Sudarto dan Sugirin, yang tergabung
dalam Ekspedisi Cendrawasih, berhasil
mencapai Puncak Jaya di Irian. Puncak
yang berhasil didaki itu sempat dianggap
Puncak Carstensz, sebelum kemudian
dibuktikan salah. Tahun ini dipatok
sebagai awal sejarah pendakian gunung
di Indonesia.
Dua perkumpulan pendaki gunung tertua
di Indonesia lahir : Wanadri di Bandung
dan Mapala UI di Jakarta.
Ekspedisi Cina mendaki Shisha Pangma
(8.046 m) di Tibet, satu-satunya puncak
8.000-an yang terletak di luar Nepal dan
Karakoram (Pakistan).
1965 Seratus tahun pendakian pertama
Matterhorn diperingati dengan pendakian
oleh Hornli, dkk., diliput oleh BBC/TV dari
awal pendakian sampai berhasil ke
puncak. Untuk pertama kalinya pendakian
gunung dan panjat tebing menjadi olah
raga yang dapat ditonton banyak orang.
Pemerintah Nepal menutup pendakian
Himalaya di wilayahnya.
1967 Penggunaan tali kernmantel
dipelopori oleh pemanjat Inggris,
menggantikan tali yang terbuat dari
bahan nylon. Bagian dalam tali
kernmantel terdiri dari beberapa pilihan
serat synthesis, yang memberikan
kekuatan pada tali. Bagian
pembungkusnya merupakan anyaman
dari bahan yang lentur, tapi tahan
gesekan, sehingga melindungi bagian
dalamnya.
1968 Nafas segar bagi para pendaki,
sejumlah lapangan terbang milik misi
Katolik di buka di Irian. Tapi sayang,
bersamaan dengan itu pemerintah
Indonesia tidak lagi mengeluarkan ijin
pendakian ke kawasan Carstensz.
1969 Reinhold Messner keluar dari
pertapaannya, kembali ke tebing-tebing
Alpen Timur, menyikat dinding es raksasa
les Droites dalam waktu 8 jam solo.
Menumbangkan rekor sebelumnya, yaitu
3 hari.
Pemanjat-pemanjat Jepang mulai
membanjiri pasaran Alpen, antara lain
membuat lintasan baru di Eiger.
Nomor perdana majalah Mountain mulai
beredar, menjadi media pendaki dan
pemanjat yang pertama beredar luas
dalam bahasa Inggris, sehingga
mempengaruhi perkembangan melalui
perdebatan dan opini.
Pemerintah Nepal membuka kembali
wilayahnya bagi pendaki Himalaya,
dengan beberapa peraturan baru dan
membatasi pendakian pada puncak-
puncak tertentu saja. Agen-agen
pendakian dan trekking tumbuh dan
berjibun seperti kutu yak, menggelitik
kelompok-kelompok kecil dari berbagai
negara untuk main-main di Himalaya
dengan mudah dan murah.
Soe Hok Gie dan Idhan Lubis gugur di
Gunung Semeru, terkena gas beracun.
1970 Dinding Selatan Annapurna di
rambah tim dari Inggris, menggunting
pita pembukaan era pendakian jalur-jalur
sulit di gunung-gunung besar Himalaya.
Tingkat kesulitan lintasan menjadi lebih
penting daripada hanya sekedar
mencapai puncak.
Tahun ini lahir cabang olah raga panjat
dinding atau panjat tebing buatan.
Dinding-dinding panjat buatan mulai
bermunculan. Bentuk-bentuk latihan
terpisah dalam olah raga panjat tebing
mulai menggema. Salah satu pelopornya
adalah Pete Livesey, pemanjat yang juga
suka speleologi, kano dan lari. Ia tahu
benar pentingnya latihan khusus bagi
masing-masing jenis olah raga tersebut,
dan mencoba menerapkannya pada
panjat tebing. Pelan tapi pasti, panjat
tebing mulai dipandang sebagai kegiatan
atletis, kesan huru-hara sedikit demi
sedikit mulai hilang. Semboyan "the best
training for climber is climbing" tidak lagi
memadai, apalagi hanya dengan
memupuk kejantanan melalui gelas-gelas
bir.
1971 Kawasan Carstensz kembali dibuka
untuk pendakian. Kesempatan ini segera
diserbu oleh tim-tim ekspedisi dari
Australia, Jerman, AS bahkan Hongkong.
Penelitian yang dilakukan Carstensz
Glacier dari Expedition University of
Melbourne, menghasilkan kesimpulan
yang cukup mengejutkan tentang
penyusutan gletser secara besar-besaran.
1972 Untuk pertama kalinya olah raga
panjat dinding masuk dalam jadwal
Olympiade di Munich, walaupun masih
eksebisi.
Mapala UI, diantaranya adalah Herman O.
Lantang dan Rudy Badil, berhasil
mencapai Puncak Jaya. Mereka
merupakan orang-orang sipil pertama dari
Indonesia yang mencapai puncak ini.
1974 Pasangan Reinhold Messner dan
Peter Habeler mendaki Hidden Peak
(8.068 m) di Karakoram selama 3 hari
dengan sistem Alpine Push (tanpa
kembali ke base camp). Pasangan ini
juga memecahkan rekor kecepatan
pemanjatan di Eiger, yaitu 10 jam.
1975 Ekspedisi dari Jepang menjadi tim
wanita pertama yang menjejak Puncak
Everest. Sementara itu China
mengirimkan ekspedisi Everest-nya yang
pertama, dari punggungan Timur Laut.
Bercak-bercak kapur magnesium mulai
terasa merisihkan tebing-tebing di Inggris
dan Eropa daratan, kebanyakan
menyalahkan para pemanjat hijau, yang
mengobral kapur pada lintasan yang
seharusnya bisa dilampaui tanpa bubuk
penyerak keringat.
1976 Harry Suliztiarto mulai latihan
memanjat di Citatah. Patok pertama
panjat tebing modern di Indonesia.
1977 Skygers Amateur Rock Climbing
Group didirikan Harry Suliztiarto, Heri
Hermanu, Deddy Hikmat dan Agus R.
Ekspedisi Selandia Baru mencoba
mendaki Everest tanpa bantuan sherpa.
Mereka Cuma sampai di South Col, tapi
seolah memukul gong yang gaungnya
merantak kemana-mana, ekspedisi
berdikari, semua perintisan jalur dan
pengangsuran perbekalan dilakukan
sendiri oleh anggota ekspedisi. Yang pro
menganggapnya sebagai kejujuran wajib,
yang kontra melecehkan sebagai kesia-
siaan yang konyol. Perdebatan ini belum
selesai sampai sekarang.
1978 Messner dan Habeler
menggegerkan dunia pendakian Himalaya
dengan mendaki Everest tanpa bantuan
tabung oksigen. Tambah geger lagi ketika
kemudian Messner bersolo karir di Nanga
Parbat dalam waktu 12 hari. Pendakian
solo ini oleh banyak pakar dianggap lebih
penting dari pendakian tanpa oksigen-
nya.
1979 Harry Suliztiarto memanjat atap
Planetarium, Taman Ismail Marzuki,
Jakarta. Disengaja atau tidak, merupakan
upaya pertama di Indonesia untuk
mempublikasikan panjat tebing.
1980 Tebing Parang di Jawa Barat untuk
pertama kali dipanjat oleh tim ITB.
Skygers menyelenggarakan sekolah
panjat tebing angkatan pertama.
Sam Moses, Geoff Tabin dan Bob Saphiro
dari AS, menjadi orang-orang pertama
yang memanjat dinding utara Carstensz
secara direct (lurus).
Wanadri menjadi tim Indonesia pertama
yang berekspedisi ke Carstensz
Pyramide. Mereka gagal mencapai
puncak, namun berhasil di Puncak Jaya
dan Carstensz Timur. Sedangkan
ekspedisi gabungan Mapala UI dan tim
AS mendaki Puncak Trikora.
Pemerintah Nepal membuka kesempatan
pendakian musim dingin, di samping
musim semi dan musim gugur. Semakin
banyak kaki meratakan jalan-jalan
setapak di pelbagai pelosok Himalaya,
semakin banyak pula sampah menumpuk
dimana-mana. Tetapi sebaliknya, konon
mata uang asing semakin deras pula
mengalir kesana. Tapi siapa yang
bertambah kaya ? Susah !!!!!!
1981 Dua ekspedisi Indonesia sekaligus
di dinding selatan Carstensz, Mapala UI
dan ITB. Salah seorang anggota tim
Mapala UI, Hartono Basuki, gugur disini.
Korban pertama pendakian di Carstensz.
Jayagiri dari Bandung mengirimkan
Danardana mengikuti sekolah pendakian
gunung di Glenmore Lodge, Skotlandia,
dilanjutkan dengan pendakiannya ke
Matterhorn, Swiss.
1982 Jayagiri mengirimkan Irwanto ke
sekolah pendakian ISM di Swiss,
dilanjutkan ekspedisi 4 orang ke Monta
Rosa, Swiss serta Mont Blanc dan
Matterhorn.
Dua ekspedisi ke Carstensz, Wanadri dan
Pataga Jakarta.
Ahmad dari Gideon SMAN 1 Bandung
tewas terjatuh di Tebing 48 Citatah,
Padalarang. Korban pertama panjat
tebing di Indonesia.
1984 Tebing Lingga di Trenggalek, Jawa
Timur, serta tebing pantai Uluwatu, Bali
dipanjat oleh Skygers dan Gabungan
Anak Petualang dari Surabaya.
1985 Tebing Serelo di Lahat, Sumatera
Selatan, dipanjat tim Ekspedisi Anak
Nakal.
Ekspedisi Mapala UI gagal mencapai
Puncak Chulu West (6.584 m) di
Himalaya. Ekspedisi Jayagiri gagal
memanjat Gunung Eiger, Swiss. Ekspedisi
Jayagiri lainnya, diantaranya Don Hasman
berhasil mendaki Kilimanjaro (5.895 m) di
Afrika.
1986 Kelompok gabungan Exclusive
berhasil memanjat Tebing Bambapuang
di Sulawesi Selatan. Kelompok Unit Kenal
Lingkungan - UNPAD memanjat Gunung
Lanang di Jawa Timur. Tim Jayagiri
merampungkan Dinding Ponot di air
terjun Sigura-gura, Sumatera Utara.
Ekspedisi Jayagiri mengulangi
pemanjatan Gunung Eiger, Swiss, berhasil
dengan menciptakan lintasan baru.
Kompetisi panjat tebing pertama di dunia
diselenggarakan di Uni Soviet, di tebing
alam, sempat ditayangkan oleh TVRI.
1987 Ekspedisi Wanadri menyelesaikan
pemanjatan Tebing Batu Unta di
Kalimantan Barat. Kelompok Trupala
memanjat Tebing Bukit Gajah di Jawa
Tengah. Skygers memanjat Sepikul di
Jawa Timur.
Beberapa ekspedisi dari Indonesia di
kirim ke luar negeri. Mapala UI ke
Puncak Chimborazo (6.267 m) dan
Cayambe (gagal) di Pegunungan Andes.
Ekspedisi Wanita Indonesia Mendaki
Himalaya ke Imja Tse di Nepal. Ekspedisi
Jayagiri Saddle Marathon, terdiri dari
Mamay S. Salim dan Bambang Hertadi
Mas mencapai puncak tertinggi di Afrika,
Kilimanjaro, dengan membawa sepeda.
Tim ini juga mendaki Mount Kenya di
Afrika dan Imja Tse, tanpa sepeda.
Eskepedisi Wanadri gagal mencapai
Vasuki Parbat (6.792 m) di Gharwal,
India.
Lomba panjat tebing pertama di
Indonesia, dilaksanakan di tebing pantai
Jimbaran, Bali.
Tiga anggota Aranyacala, Trisakti dan 1
mahasiswa sipil Trisakti tewas terbunuh
dekat Ilaga, dalam perjalanan ke
Carstensz.
1988 Dinding panjat buat pertama kali
diperkenalkan di Indonesia, dibawa oleh 4
pemanjat Perancis yang diundang ke
Indonesia atas kerjasama Kantor
Menpora dengan Kedubes Perancis di
Jakarta. Mereka juga sempat
memberikan kursus singkat. Menjelang
akhir acara, terbentuk Federasi Panjat
Gunung dan Tebing Indonesia (FPGTI),
diketuai Harry Suliztiarto.
Untuk pertama kali disusun rangkaian
kejuaraan memperebutkan Piala Dunia
Panjat Dinding yang direstui dan diawasi
oleh UIAA (Union Internationale de
Association de Alpinism), badan
internasional yang membawahi federasi-
federasi panjat tebing dan pendakian
gunung, diawali dengan kejuaraan di
Snowbird, AS.
Ekspedisi panjat tebing yang sepenuhnya
dilaksanakan oleh wanita, Ekspedisi Putri
Parang Aranyacala Trisakti, memanjat
Tower III Parang. Kelompok putranya
memanjat Gunung Kembar di Citeureup,
Bogor.
Ekspedisi UKL Unpad kehilangan satu
anggotanya, Yanto Martogi Sitanggang
yang tewas terjatuh di Batu Unta,
Kalimantan.
Panjat kebut pertama kali dilakukan di
Indonesia oleh Sandy Febiyanto dan Djati
Pranoto di Tower I Parang, dalam waktu
4 jam, sekaligus merupakan pemanjatan
tebing besar pertama tanpa
menggunakan alat pengaman sama
sekali, keduanya hanya saling
dihubungkan dengan tali.
Lomba panjat tebing buatan pertama
dilakukan di Bandung, mengambil lokasi
di sebuah gardu listrik.
Ekspedisi Wanadri berhasil menempatkan
3 pendakinya di Puncak Pumori (7.145 m)
di Himalaya. Hendricus Mutter dan Vera
MW dari Jayagiri mendaki Imja Tse tanpa
sherpa.
Di Alpen, Ekspedisi Jayagiri Speed
Climbing gagal memenuhi target waktu
pemanjatan 2 hari pada dinding utara
Gunung Eiger, waktu mereka mulur
menjadi 5 hari. Ekspedisi Pataga Jakarta
berhasil menciptakan lintasan baru pada
gunung yang sama.
Di Yosemite, AS, Sandy Febiyanto dan
Djati Pranoto memanjat Half Dome
(gagal memecahkan rekor waktu John
Bachar dan Peter Croft, 4,5 jam) dan El
Capitan (gagal memecahkan rekor waktu
10,5 jam).
1989 Awal tahun ini, dunia panjat tebing
merunduk dilanda musibah dengan
gugurnya salah satu pemanjat terbaik
Indonesia, Sandy Febiyanto, yang terjatuh
di tebing Pawon, Citatah. Tetapi tidak
lama. Semangat almarhum seolah justru
menyebar ke segala penjuru Nusantara,
memacu pencetakan prestasi panjat
tebing di Bumi Pertiwi ini.
Ekspedisi Putri Lipstick Aranyacala
Trisakti memanjat Bambapuang, Sulsel,
tetapi musibah menimpa tim ini sebelum
mencapai puncak. Ali Irfan Batubara,
fotografer tim, tewas tergelincir dari
ketinggian.
Di Himalaya, pendaki top Polandia, Jerzy
Kukuczka, tewas dalam upaya memanjat
dinding selatan Lhotse (8.516 m).
Arek-arek Young Pioneer dari Malang
memanjat tebing Gajah Mungkur di
seputaran dalam kawah Kelud, sementara
tim Jayagiri sedang berlatih dalam
rangka persiapan ekspedisi ke Lhotse
Shar di Nepal, tim ini mematok target
pemanjatan semua pucuk-pucuk tebing
kawah Kelud, tetapi gagal. Ekspedisinya
sendiri batal berangkat.
Kawasan Citeureup kembali dipanjat tim
dari Aranyacala, kali ini tebing Rungking.
Tebing Uluwatu, Bali dipanjat ekspedisi
putri yang kedua dari Mahitala, Unpar.
Kelompok Mega, Untar melakukan
ekspedisi marathon panjat tebing, mulai
dari tebing-tebing di Citatah, Parang,
Gajah Mungkur dan berakhir di Uluwatu,
dalam waktu hampir sebulan. Merupakan
marathon panjat tebing pertama di
Indonesia.
Tahun ini tercatat tidak kurang dari 10
kejuaraan panjat dinding diselenggarakan
di Indonesia. Beberapa yang besar adalah
di Unpar-Bandung, Trisakti-Jakarta, ISTN-
Jakarta, Markas Kopassus Grup I Serang,
Trupala-Jakarta (dua kali, di Balai Sidang
dan Ancol), SMA 70 Bulungan-Jakarta,
Kelompok KAPPA-UI dan Geologi-ITB.
Mapala UI membuat 2 ekspedisi, ke
Mount Cook (3.764 m), Selandia Baru
dan McKinley (6.149 m), Alaska, puncak
tertinggi di Amerika Utara.
Empat anggota Wanadri mengikuti kursus
pendakian gunung es di Rainier
Mountaineering Institute, AS, kemudian
bergabung dengan ekspedisi AS ke
Kangchenjunga.
Di Alpen, Ekspedisi Wanita Alpen
Indonesia berhasil merampungkan
pendakian 5 puncak tertinggi di 5 negara
Eropa, Mont Blanc (Perancis), Grand
Paradiso, 4.601 m (Italia), Monte Rosa,
4.634 m (Swiss), Grossglockner, 3.978 m
(Austria) dan Zugspitze, 2.964 m
(Jerman).
Akhir tahun ini ditutup dengan gebrakan
Budi Cahyono melakukan pemanjatan
solo di Tower III Parang. Merupakan
artificial solo climbing pertama pada
tebing besar di Indonesia.
1990 Lomba Panjat Dinding Nasional
(LPDN) di gelar di Jakarta, dengan
menggunakan dinding panjat pertama
yang mempunyai empat sisi dengan
ketinggian 15 meter. FPGTI berubah
nama menjadi FPTI (Federasi Panjat
Tebing Indonesia), diketuai tetap oleh
Harry Suliztiarto sebagai Ketua Harian
dan Setiawan Djody sebagai Ketua
Umum.
Majalah Mountain, majalah pendakian
gunung dan panjat tebing yang pertama
di dunia (lahir tahun 1969), tidak terbit
lagi. Salah satu rubrik khasnya, Info,
diadopsi oleh majalah High terbitan
British Mountaineering Club.
Tomo Cesen, pendaki asal Yugoslavia
(Slovenia), berhasil mencapai puncak
Lhotse (8.516 m) di Himalaya dalam
waktu 62 jam, lewat dinding selatan yang
merenggut nyawa Jerzy Kukuczka tahun
sebelumnya. Ditambah dengan pendakian
solonya tahun sebelumnya di Jannu
(7.710 m), Tomo membuka era baru
pendakian gunung : solo, jalur baru dan
waktu pendakian yang sangat singkat.
Ekspedisi PPGAD dan Pataga Jakarta
mendaki Carstensz Pyramide dan Puncak
Jaya.
Ekspedisi Pemanjat Putri Indonesia
(EPPI), terdiri dari pemanjat Aranyacala
Trisakti, Mahitala Unpar dan IKIP
Bandung, melakukan pemanjatan di Half
Dome, AS.
1991 Indonesia untuk pertama kalinya
mengirimkan pemanjatnya pada
kejuaraan di luar negeri, yaitu Oceania
Cup di Autralia. Dari 4 pemanjat yang
dikirim, hanya Andreas SM dan Deden
Sutisna yang mendapat peringkat, yaitu 4
dan 5. Keikutsertaan ini membuka mata
dunia panjat tebing internasional, bahwa
ternyata Indonesia sudah mempunyai atlit
panjat tebing.
FPTI untuk pertama kali mengeluarkan
Peraturan Lomba Panjat Tebing Buatan.
Ekspedisi Pemanjat Putri Indonesia
(EPPI) '91, terdiri dari 8 pemanjat putri
dari berbagai perhimpunan di Jakarta,
Bandung, Yogya dan Menado, berhasil
membuat lintasan baru pada tebing Cima
Ovest, Italia.
FPTI Pengda Jatim dan Imapala Unmer
Malang, mengadakan Climbing Party di
Lembah Kera, diikuti oleh puluhan
pemanjat. Selain memanjat bersama,
juga diadakan diskusi dan evaluasi
pembuatan jalur, sehingga menjadikannya
sebagai jambore panjat tebing yang
pertama di Indonesia, walaupun
sebenarnya tidak disebut demikian.
Tahun ini tercatat beberapa kecelakaan
di dinding panjat. Zainuddin tewas
terjatuh di Samarinda, karena tidak
memasang pengaman. Tiga pemanjat lagi
terjatuh dan cedera (lumpuh, patah
tulang). Semuanya terjadi karena tidak
mengikuti prosedur keselamatan
pemanjatan.
Eskpedisi gabungan PPGAD-Wanadri
berhasil memanjat jalur lurus dinding
utara Tower-2 Carstensz, menyelesaikan
marathon 5 puncak (Sarwo Edhi,
Sumantri, Soekarno/Puncak Jaya, Puncak
Tengah dan Carstensz Timur) serta
mendaki Puncak Mandala untuk pertama
kalinya. Tim arus derasnya mengalami
musibah di sungai Van der Wall, dengan
korban 7 orang tewas.
Mauly MW Wibowo melakukan
pemanjatan bebas solo (free solo)
pertama, di Bambapuang, Sulsel.
Rapat Paripurna Nasional FPTI yang
pertama, diselenggarakan di Puncak,
Jabar.
1992 Kejuaraan Nasional Panjat Tebing I
diselenggarakan di Padang, juara umum
diraih oleh kontingen DKI Jaya. Usai
Kejurnas, para pemanjat mengadakan
panjat bareng di Lembah Harau, Bukit
Tinggi, menghasilkan beberapa jalur baru.
Ronald N. Mamarimbing dan Panji
Susanto mengikuti kejuaraan First Asian
Championship di Seoul, sedangkan
Mamay S. Salim dan Mauly MW Wibowo
mengikuti kursus juri dan pembuat jalur
dengan instruktur dari Perancis,
dilanjutkan dengan rapat CICE Asia.
Sebelumnya Panji S dan Yereno ET
berangkat ke Singapura mengikuti lomba
SAFRA, tetapi terlambat datang. Mereka
kemudian diminta melakukan eksebisi
dan mendapat sambutan meriah.
Tim gabungan PPGAD dan Pataga
Jakarta melakukan pemanjatan di tebing
Grandes Jorrases, Perancis.
Tim Mapala UI harus rela kehilangan
Norman Edwin dan Didiek Samsu, yang
gugur ketika melakukan pendakian ke
Aconcagua, puncak tertinggi di benua
Amerika.
Mamay S. Salim dan Deden Sutisna
membuat beberapa jalur pemanjatan
pada tebing-tebing granit di Pulau
Belitung.
Budi Cahyono yang dikontrak oleh sebuah
perusahaan rokok, melakukan pemanjatan
di Taiwan, untuk pembuatan iklan.
FPTI diterima secara resmi menjadi
anggota UIAA, disusul dengan pengiriman
utusan ke rapat CICE Asia di Hongkong.
Rapat Paripurna Nasional FPTI yang
kedua disekenggarakan di Bengkulu.
1993 Kejuaraan Nasional Panjat Tebing II
dilaksanakan di Bengkulu, juara umum
diraih oleh Sumatera Barat, menyusul
kemudian kejuaraan Piala Menhub di
Jakarta dan lomba yang diadakan
Persatuan Pelajar Semen Gresik di Jatim.
Ketiganya diselenggarakan dalam bulan
yang sama.
Budi Cahyono, Ronald N.M dan Yusa
Kanarohan mengikuti Kejuaraan Asia di
Chancun, RRC. Hasilnya Ronald peringkat
II dan Yusa peringkat VI.
Budi Cahyono dan Yusa Kanarohan
berhasil meraih juara 1 dan 2 pada
kompetisi Singapore National 2nd Rock
Wall Climb Championship.
Dua instruktur dari Perancis datang ke
Indonesia dan memberikan kursus lomba
panjat tebing di Bandung
FPTI Pengda Jatim bekerjasama dengan
Mahapala D3 Ekonomi Univ. Jember,
mengadakan sekolah panjat tebing di
Sepikul, Jatim.
Skygers juga mengadakan sekolah panjat
tebing angkatan ke 10.
Tahun ini tiga kegiatan pendidikan alam
bebas dilaksanakan hampir bersamaan
waktunya : Gladian Pencinta Alam,
Sekolah SAR dan TWKM (Temu Wicara
Kelompok Mahasiswa).
Jambore Panjat Tebing Pertama
diselenggarakan oleh FPTI Pengda DKI di
Parang.
SH Nasution dan Kamran Ali melakukan
pemanjatan di kawasan Phang-Nga dan
Phuket, Thailand.
Kamran dan Oneng memanjat di Malaysia
dan Vietnam.
Tim Mapala UI, terdiri dari Tantyo
Bangun dan Ripto Mulyono berhasil
mencapai puncak Aconcagua, disusul
oleh tim Ekspedisi Putri Indonesia.
Sedangkan tim FPTI gagal berangkat ke
Fitzroy dan Aconcagua. Alex Lowe dari
AS berhasil mencapai puncak Aconcagua
3x dalam seminggu.
Aranyacala Trisakti mengirimkan tim ke
AS, terdiri dari tim tebing (Half Dome),
tim arung jeram (Colorado) dan tim
gunung (Mount Whitney).
Di tanah air, tim Mapala UI berhasil
memanjat jalur lurus (direct route)
dinding utara Carstensz Pyramide, namun
gagal dalam upayanya memanjat dinding
utara Puncak Jaya.
Awan kelabu kembali menyelimuti dunia
petualang alam bebas kita, Dudy Arief
Wahyudi, salah seorang pelopor
paralayang di Indonesia, tewas saat
melakukan kegiatan paralayang di pantai
Parangtritis, Yogyakarta.
Wolfgang Gullich, pemanjat handal dari
Jerman yang menjadi pemeran pengganti
Silvester Stallone dalam film Cliff Hanger,
tewas karena kecelakaan mobil.
Catherine Destivelle dari Perancis,
memanjat solo dinding utara Eiger.
1994 FPTI secara resmi menjadi anggota
KONI yang ke-50.
Ronald N.M dan Nunun Masruroh berhasil
menduduki peringkat 9 dan 12 pada
Kejuaraan Asia Ketiga di Jepang,
sedangkan Hendricus F. Mutter mengikuti
rapat CICE Asia di Jepang.
Mamay S. Salim dan Kresna Hutama
membuat jalur-jalur pemanjatan pada
tebing-tebing di Taiwan.
Mamay S. Salim dan Rahim ABS belajar
teknik panjat pohon, kemudian menjadi
asisten peneliti dari Perancis yang
mengadakan pengumpulan sample
tumbuhan epifit (pakis, anggrek, dll) di
kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat,
Jambi.
Jambore Panjat Tebing Kedua
diselenggarakan oleh FPTI Pengda DKI,
lokasinya masih di Parang.
1995 Lintasan dinding timur laut Everest
akhirnya berhasil didaki oleh dua pendaki
dari Jepang. Padahal lintasan ini dipilih
juga waktu upaya pendakian Everest yang
pertama tahun 1992.
Budi Cahyono menawarkan pemanduan
pemanjatan ke Parang, iklannya masuk
pada majalah Action Asia edisi April/Mei
1995.

(Sumber : Buku Panduan LPDN 1990)

No comments:

Post a Comment