Thursday, 12 March 2015

MATERI DASAR MOUNTAINERING

MOUNTAINEERING
I. PENDAHULUAN
Aktivitas mendaki gunung akhir-akhir ini
nampaknya bukan lagi merupakan suatu
kegiatan yang langka, artinya tidak lagi hanya
dilakukan oleh orang tertentu (yang
menamakan diri sebagai kelompok Pencinta
Alam, Penjelajah Alam dan semacamnya).
Melainkan telah dilakukan oleh orang-orang dari
kalangan umum. Namun demikian
bukanlah berarti kita bisa menganggap bahwa
segala sesuatu yang berkaitan dengan
aktivitas mendaki gunung, menjadi bidang
ketrampilan yang mudah dan tidak memiliki
dasar pengetahuan teoritis. Didalam pendakian
suatu gunung banyak hal-hal yang
harus kita ketahui (sebagai seorang pencinta
alam) yang berupa : aturan-aturan
pendakian, perlengkapan pendakian, persiapan,
cara-cara yang baik, untuk mendaki
gunung dan lain-lain. Segalanya inilah yang
tercakup dalam bidang Mountaineering.
Mendaki gunung dalam pengertian
Mountaineering terdiri dari tiga tahap kegiatan,
yaitu :
1. Berjalan (Hill Walking)
Secara khusus kegiatan ini disebut mendaki
gunung. Hill Walking adalah kegiatan
yang paling banyak dilakukan di Indonesia.
Kebanyakan gunung di Indonesia memang
hanya memungkinkan berkembangnya tahap ini.
Disini aspek yang lebih menonjol
adalah daya tarik dari alam yang dijelajahi
(nature interested)
2. Memanjat (Rock Climbing)
Walaupun kegiatan ini terpaksa harus
memisahkan diri dari Mountaineering, namun ia
tetap merupakan cabang darinya. Perkembangan
yang pesat telah melahirkan banyak
metode-metode pemanjatan tebing yang ternyata
perlu untuk diperdalam secara
khusus. Namun prinsipnya dengan tiga titik dan
berat dan kaki yang berhenti,
tangan hanya memberi pertolongan.
3. Mendaki gunung es (Ice & Snow Climbing)
Kedua jenis kegiatan ini dapat dipisahkan satu
sama lain. Ice Climbing adalah
cara-cara pendakian tebing/gunung es,
sedangkan Snow Climbing adalah teknik-teknik
pendakian tebing gunung salju.
Dalam ketiga macam kegiatan di atas tentu
didalamnya telah mencakup :
Mountcamping, Mount Resque, Navigasi medan
dan peta, PPPK pegunungan, teknikteknik
Rock Climbing dan lain-lain.
II. PERSIAPAN MENDAKI GUNUNG
1. Pengenalan Medan
Untuk menguasai medan dan memperhitungkan
bahaya obyek seorang pendaki harus
menguasai menguasai pengetahuan medan, yaitu
membaca peta, menggunakan kompas
serta altimeter.
Mengetahui perubahan cuaca atau iklim. Cara
lain untuk mengetahui medan yang akan
dihadapi adalah dengan bertanya dengan orang-
orang yang pernah mendaki gunung
tersebut. Tetapi cara yang terbaik adalah
mengikut sertakan orang yang pernah
mendaki gunung tersebut bersama kita.
2. Persiapan Fisik
Persiapan fisik bagi pendaki gunung terutama
mencakup tenaga aerobic dan
kelenturan otot. Kesegaran jasmani akan
mempengaruhi transport oksigen melelui
peredaran darah ke otot-otot badan, dan ini
penting karena semakin tinggi suatu
daerah semakin rendah kadar oksigennya.
3. Persiapan Tim
Menentukan anggota tim dan membagi tugas
serta mengelompokkannya dan merencanakan
semua yang berkaitan dengan pendakian.
4. Perbekalan dan Peralatan
Persiapan perlengkapan merupakan awal
pendakian gunung itu sendiri. Perlengkapan
mendaki gunung umumnya mahal, tetapi ini wajar
karena ini merupakan pelindung
keselamatan pendaki itu sendiri. Gunung
merupakan lingkungan yang asing bagi organ
tubuh kita yang terbiasa hidup di daerah yang
lebih rendah. Karena itu diperlukan
perlengkapan yang memadai agar pendaki
mampu menyesuaikan di ketinggian yang baru
itu. Seperti sepatu, ransel, pakaian, tenda,
perlengkapan tidur, perlengkapan
masak, makanan, obat-obatan dan lain-lain.
III. BAHAYA DI GUNUNG
Dalam olahraga mendaki gunung ada dua faktor
yang mempengaruhi berhasil tidaknya
suatu pendakian.
1. Faktor Internal
Yaitu faktor yang datang dari si pendaki sendiri.
Apabila faktor ini tidak
dipersiapkan dengan baik akan mendatangkan
bahaya subyek yaitu karena persiapan
yang kurang baik, baik persiapan fisik,
perlengkapan, pengetahuan, ketrampilan dan
mental.
2. Faktor Eksternal
Yaitu faktor yang datang dari luar si pendaki.
Bahaya ini datang dari obyek
pendakiannya (gunung), sehingga secara teknik
disebut bahaya obyek. Bahaya ini
dapat berupa badai, hujan, udara dingin,
longsoran hutan lebat dan lain-lain.
Kecelakaan yang terjadi di gunung-gunung
Indonesia umumnya disebabkan faktor
intern. Rasa keingintahuan dan rasa suka yang
berlebihan dan dorongan hati untuk
pegang peranan, penyakit, ingin dihormati oleh
semua orang serta keterbatasanketerbatasan
pada diri kita sendiri.
IV. LANGKAH-LANGKAH DAN PROSEDUR
PENDAKIAN
Umumnya langkah-langkah yang biasa dilakukan
oleh kelompok-kelompok pencinta alam
dalam suatu kegiatan pendakian gunung meliputi
tiga langkah, yaitu :
1. Persiapan
Yang dimaksud persiapan pendakian gunung
adalah :
• Menentukan pengurus panitia pendakian, yang
akan bekerja mengurus :
Perijinan pendakian, perhitungan anggaran biaya,
penentuan jadwal pendakian,
persiapan perlengkapan/transportasi dan segala
macam urusan lainnya yang berkaitan
dengan pendakian.
• Persiapan fisik dan mental anggota pendaki, ini
biasanya dilakukan dengan
berolahraga secara rutin untuk mengoptimalkan
kondisi fisik serta memeksimalkan
ketahanan nafas. Persiapan mental dapat
dilakukan dengan mencari/mempelajari
kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga
timbul dalam pendakian beserta cara-cara
pencegahan/pemecahannya.
2. Pelaksanaan
Bila ingin mendaki gunung yang belum pernah
didaki sebelumnya disarankan membawa
guide/penunjuk jalan atau paling tidak seseorang
yang telah pernah mendaki gunung
tersebut, atau bisa juga dilakukan dengan
pengetahuan membaca jalur pendakian.
Untuk memudahkan koordinasi, semua peserta
pendakian dibagi menjadi tiga kelompok,
yaitu :
– Kelompok pelopor
– Kelompok inti
– Kelompok penyapu
Masing-masing kelompok, ditunjuk
penanggungjawabnya oleh komandan lapangan
(penanggungjawab koordinasi).
Daftarkan kelompok anda pada buku pendakian
yang tersedia di setiap base camp
pendakian, biasanya menghubungi anggota SAR
atau juru kunci gunung tersebut.
Didalam perjalanan posisi kelompok diusahakan
tetap yaitu : Pelopor di depan
(disertai guide), kelompok initi di tengah, dan
team penyapu di belakang. Jangan
sesekali merasa segan untuk menegur peserta
yang melanggar peraturan ini.
Demikian juga saat penurunan, posisi semula
diusahakan tetap. Setelah tiba di
puncak dan di base camp jangan lupa mengecek
jumlah peserta, siapa tahu ada yang
tertinggal.
3. Evaluasi
Biasakanlah melakukan evaluasi dari setiap
kegiatan yang anda lakukan, karena
dengan evaluasi kita akan tahu kekurangan dan
kelemahan yang kita lakukan. Ini
menuju perbaikan dan kebaikan (vivat et floreat).
V. FISIOLOGI TUBUH DI PEGUNUNGAN
Mendaki gunung adalah perjuangan, perjuangan
manusia melawan ketinggian dan segala
konsekuensinya. Dengan berubahnya ketinggian
tempat, maka kondisi lingkungan pun
jelas akan berubah. Anasir lingkungan yang
perubahannya tampak jelas bila
dikaitkan dengan ketinggian adalah suhu dan
kandungan oksigen udara. Semakin
bertambah ketinggian maka suhu akan semakin
turun dan kandungan oksigen udara juga
semakin berkurang.
Fenomena alam seperti ini beserta
konsekuensinya terhadap keselamatan jiwa kita,
itulah yang teramat penting kita ketahui dalam
mempelajari proses fisiologi tubuh
di daerah ketinggian. Banyak kecelakaan terjadi
di pegunungan akibat kurang
pengetahuan, hampa pengalaman dan kurang
lengkapnya sarana penyelamat.
1. Konsekuensi Penurunan Suhu
Manusia termasuk organisme berdarah panas
(poikiloterm), dengan demikian manusia
memiliki suatu mekanisme thermoreguler untuk
mempertahankan kondisi suhu tubuh
terhadap perubahan suhu lingkungannya. Namun
suhu yang terlalu ekstrim dapat
membahayakan. Jika tubuh berada dalam kondisi
suhu yang rendah, maka tubuh akan
terangsang untuk meningkatkan metabolisme
untuk mempertahankan suhu tubuh internal
(mis : dengan menggigil). Untuk mengimbangi
peningkatan metabolisme kita perlu
banyak makan, karena makanan yang kita makan
itulah yang menjadi sumber energi dan
tenaga yang dihasilkan lewat oksidasi.
2. Konsekuensi Penurunan Jumlah Oksigen
Oksigen bagi tubuh organisme aerob adalah
menjadi suatu konsumsi vital untuk
menjamin kelangsungan proses-proses biokimia
dalam tubuh, konsumsi dalam tubuh
biasanya sangat erat hubungannya dengan
jumlah sel darah merah dari konsentrasi
haemoglobin dalam darah. Semakin tinggi jumlah
darah merah dan konsentrasi
Haemoglobin, maka kapasitas oksigen respirasi
akan meningkat. Oleh karena itu
untuk mengatasi kekurangan oksigen di
ketinggian, kita perlu mengadakan latihan
aerobic, karena disamping memperlancar
peredaran darah, latihan ini juga
merangsang memacu sintesis sel-sel darah
merah.
3. Kesegaran Jasmani
Kesegaran jasmani adalah syarat utama dalam
pendakian. Komponen terpenting yang
ditinjau dari sudut faal olahraga adalah system
kardiovaskulare dan
neuromusculare.
Seorang pendaki gunung pada ketinggian tertentu
akan mengalami hal-hal yang kurang
enak, yang disebabkan oleh hipoksea (kekurangan
oksigen), ini disebut penyakit
gunung (mountain sickness). Kapasitas kerja
fisik akan menurun secara menyolok
pada ketinggian 2000 meter, sementara
kapasitas kerja aerobic akan menurun (dengan
membawa beban 15 Kg) dan juga derajat
aklimasi tubuh akan lambat.
Mountain sickness ditandai dengan timbulnya
gejala-gejala :
• Merasakan sakit kepala atau pusing-pusing
• Sukar atau tidak dapat tidur
• Kehilangan control emosi atau lekas marah
• Bernafas agak berat/susah
• Sering terjadi penyimpangan interpretasi/
keinginannya aneh-aneh, bersikap
semaunya dan bisa mengarah kepenyimpangan
mental.
• Biasanya terasa mual bahkan kadang-kadang
sampai muntah, bila ini terjadi
maka orang ini harus segera ditolong dengan
memberi makanan/minuman untuk mencegah
kekosongan perut.
• Gejala-gejala ini biasanya akan lebih parah di
pagi hari, dan akan mencapai
puncaknya pada hari kedua.
Apabila diantara peserta pendakian mengalami
gejala ini, maka perlu secara dini
ditangani/diberi obat penenang atau dicegah
untuk naik lebih tinggi. Bilamana
sudah terlanjur parah dengan emosi dan kelakuan
yang aneh-aneh serta tidak peduli
lagi nasehat (keras kepala), maka jalan terbaik
adalah membuatnya pingsan.
Pada ketinggian lebih dari 3000 m.dpl, hipoksea
cerebral dapat menyebabkan
kemampuan untuk mengambil keputusan dan
penalarannya menurun. Dapat pula timbul
rasa percaya diri yang keliru, pengurangan
ketajaman penglihtan dan gangguan pada
koordinasi gerak lengan dan kaki. Pada
ketinggian 5000 m, hipoksea semakin nyata
dan pada ketinggian 6000 m kesadarannya dapat
hilang sama sekali.
4. Program Aerobik
Program/latihan ini merupakan dasar yang perlu
mendapatkan kapasitas fisik yang
maksimum pada daerah ketinggian. Kapasitas
kerja fisik seseorang berkaitan dengan
kelancaran transportasi oksigen dalam tubuh
selai respirasi.
Kebiasaan melakukan latihan aerobic secara
teratur, dapat menambah kelancaran
peredaran darah dalam tubuh, memperbanyak
jumlah pembuluh darah yang mrmasuki
jaringan, memperbanyak sintesis darah merah,
menambah kandungan jumlah haemoglobin
darah dan juga menjaga optimalisasi kerja
jantung. Dengan terpenuhinya hal-hal
tersebut di atas, maka mekanisme pengiriman
oksigen melalui pembuluh darah ke selsel
yang membutuhkan lebih terjamin.
Untuk persiapan/latihan aerobic ini biasanya
harus diintensifkan selama dua bulan
sebelumnya. Latihan yang teratur ternyata juga
dapat meningkatkan kekuatan
(endurance) dan kelenturan (fleksibility) otot,
peningkatan kepercayaan diri
(mental), keteguhan hati serta kemauan yang
keras. Didalam latihan diusahakan
denyut nadi mencapai 80% dari denyut nadi
maksimal, biasanya baru tercapai setelah
lari selama 20 menit. Seorang yang dapat
dikatakan tinggi kesegaran aerobiknya
apabila ia dapat menggunakan minimal oksigen
per menit per Kg berat badan. Yang
tentunya disesuaikan dengan usia latihan
kekuatan juga digunakan untuk menjaga
daya tahan yang maksimal, dan gerakan yang
luwes. Ini biasanya dengan latihan
beban, Untuk baiknya dilakukan aerobic 25-50
menit setiap harinya.
VI. PENGETAHUAN DASAR BAGI MOUNTAINEER
1. Orientasi Medan
A. Menentukan arah perjalanan dan posisi pada
peta
• Dengan dua titik di medan yang dapat
diidentifikasikan pada gambar di peta.
Dengan menggunakan perhitungan teknik/
azimuth, tariklah garis pada kedua titik
diidentifikasi tersebut di dalam peta. Garis
perpotongan satu titik yaitu posisi
kita pada peta.
• Bila diketahui satu titik identifikasi. Ada
beberapa cara yang dapat dicapai
:
1. Kalau kita berada di jalan setapak atau sungai
yang tertera pada peta, maka
perpotongan garis yang ditarik dari titik
identifikasi dengan jalan setapak atau
sungai adalah kedudukan kita.
2. Menggunakan altimeter. Perpotongan antara
garis yang ditarik dari titik
identifikasi dengan kontur pada titik ketinggian
sesuai dengan angka pada
altimeter adalah kedudukan kita.
3. Dilakukan secara kira-kira saja. Apabila kita
sedang mendaki gunung,
kemudian titik yang berhasil yang diperoleh
adalah puncaknya, maka tarik garis
dari titik identifikasi itu, lalu perkirakanlah berapa
bagian dari gunung itu yang
telah kita daki.
B. Menggunakan kompas
Untuk membaca peta sangat dibutuhkan banyak
bermacam kompas yang dapat dipakai
dalam satu perjalanan atau pendakian, yaitu tipe
silva, prisma dan lensa.
C. Peta dalam perjalanan
Dengan mempelajari peta, kita dapat
membayangkan kira-kira medan yang akan dilaui
atau dijelajahi. Penggunaan peta dan kompas
memang ideal, tetapi sering dalam
praktek sangat sukar dalam menerapkannya di
gunung-gunung di Indonesia. Hutan yang
sangat lebat atau kabut yang sangat tebal acap
kali menyulitkan orientasi.
Penanggulangan dari kemungkinan ini
seharusnya dimulai dari awal perjalanan, yaitu
dengan mengetahui dan mengenali secara teliti
tempat pertama yang menjadi awal
perjalanan.
Gerak yang teliti dan cermat sangat dibutuhkan
dalam situasi seperi di atas. Ada
baiknya tanda alam sepanjang jalan yang kita
lalui diperhatikan dan dihafal,
mungkin akan sangat bermanfaat kalau kita
kehilangan arah dan terpaksa kembali
ketempat semula.
Dari pengalaman terutama di hutan dan di
gunung tropis kepekaan terhadap
lingkungan alam yang dilalui lebih menentukan
dari pada kita mengandalkan alatalat
seperti kompas tersebut. Hanya sering dengan
berlatih dan melakukan
perjalanan kepekaan itu bisa diperoleh.
2. Membaca Keadaan Alam
A. Keadaan udara
• Sinar merah pada waktu Matahari akan
terbenam. Sinar merah pada langit yang
tidak berawan mengakibatkan esok harinya
cuaca baik. Sinar merah pada waktu
Matahari terbit sering mengakibatkan hari tetap
bercuaca buruk.
• Perbedaan yang besar antara temperature
siang hari dan malam hari. Apabila
tidak angin gunung atau angin lembab atau pagi-
pagi berhembus angin panas, maka
diramalkan adanya udara yang buruk. Hal ini
berlaku sebaliknya.
• Awan putih berbentuk seperti bulu kambing.
Apabila awan ini hilang atau
hanya lewat saja berarti cuaca baik. Sebaliknya
apabila awan ini berkelompok
seperti selimut putih maka datanglah cuaca
buruk.
B. Membaca sandi-sandi yang diterapkan di alam
menggunakan bahan-bahan dari alam, seperti :
– Sandi dari batu yang dijejer atau ditumpuk
– Sandi dari batang/ranting yang dipatahkan/
dibengkokkan
– Sandi dari rumput/semak yang diikat
Tujuan dari penggunaan sandi-sandi ini apabila
kita kehilangan arah dan perlu
kembali ke tempat semula atau pulang.
3. Tingkatan Pendakian gunung
Agar setiap orang mengetahui apakah lintasan
yang akan ditempuhnya sulit atau
mudah, maka dalam olahraga mendaki gunung
dibuat penggolongan tingkat kesulitan
setiap medan atau lintasan gunung.
Penggolongan ini tergantung pada karakter
tebing atau gunungnya, temperamen dan
penampilan fisik si pendaki, cuaca, kuat dan
rapuhnya batuan di tebing, dan macam-macam
variabel lainnya.
Kelas 1 : Berjalan. Tidak memerlukan peralatan
dan teknik khusus.
Kelas 2 : Merangkak (scrambling). Dianjurkan
untuk memakai sepatu yang layak.
Penggunaan tangan mungkin diperlukan untuk
membantu.
Kelas 3 : Memanjat (climbing). Tali diperlukan
bagi pendaki yang belum
berpengalaman.
Kelas 4 : Memanjat dengan tali dan belaying.
Anchor untuk belaying mungkin
diperlukan.
Kelas 5 : Memanjat bebas dengan penggunaan
tali belaying dan runner. Kelas ini
dibagi lagi menjadi 13 tingkatan.
Kelas 6 : Pemanjatan artificial. Tali dan anchor
digunakan untuk gerakan naik.
Kelas ini sering disebut kelas A. Selanjutnya
dibagi dalam 5 tingkatan.
MANAJEMEN PERJALANAN & PERALATAN
Perencanan perjalanan
Hal pertama yang harus dilakukan adalah
mencari informasi. Untuk mendapatkan datadata
kita dapat memperoleh dari literatur- literatur
yang berupa buku-buku atau
artikel-artikel yang kita butuhkan atau dari orang-
orang yang pernah melakukan
pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak
salah juga bila meminta informasi
dari penduduk setempat atau siapa saja yang
mengerti tentang gambaran medan lokasi
yang akan kita daki.
Selanjutnya buatlah ROP (Rencana Operasi
Perjalanan). Buatlah perencanaan secara
detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana
yang dituju, berapa lama
kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja
yang dibutuhkan, makanan yang perlu
dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana
mencapai daerah tersebut, serta
prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah
tersebut. Lalu buatlah ROP secara
teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian
waktu sebelum kegiatan sampai
dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job
dengan anggota pendaki yang lain
(satu kelompok), tentukan kapan waktu makan,
kapan harus istirahat, dan
sebagainya.
Intinya dalam perencanaan pendakian,
hendaknya memperhatikan :
Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam ■
menghadapi medan.
■ Mempelajari medan yang akan ditempuh.
■ Teliti rencana pendakian dan rute yang akan
ditempuh secermat mungkin.
■ Pikirkan waktu yang digunakan dalam
pendakian.
■ Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.
Perlengkapan dasar perjalanan
■ Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana,
ikat pinggang, baju, topi, jas
hujan, dll.
■ Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda,
matras dll.
■ Perlengkapan masak dan makan: kompor,
sendok, makanan, korek dll.
■ Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat
pribadi, sikat, toilet paper /
tissu, dll.
■ Ransel / carrier.
Perlengkapan pembantu
■ Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas,
Obat-obatan.
Peta, busur derajat, douglass protector, pengaris,
■ pensil dll.
■ Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS
[kalo ada]
■ Jam tangan.
Packing atau menyusun perlengkapan kedalam
ransel.
• Kelompokkan barang barang sesuai dengan
jenis jenisnya.
• Masukkan dalam kantong plastik.
• Letakkan barang barang yang ringan dan jarang
penggunananya (mis :
Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.
• Barang barang yang sering digunakan dan vital
letakkan sedekat mungkin
dengan tubuh dan mudah diambil.
• Tempatkan barang barang yang lebih berat
setinggi dan sedekat mungkin dengan
badan / punggung.
• Buat Checklist barang barang tersebut
Pedoman Perjalanan Alam Terbuka
Untuk merencanakan suatu perjalanan ke alam
bebas harus ada persiapan dan
penyusunan secara matang. Ada rumusan yang
umum digunakan yaitu 4W & 1 H, yang
kepanjangannya adalah Where, Who, Why, When
dan How.
Berikut ini aplikasi dari rumusan tersebut:
• Where (Dimana), untuk melakukan suatu
kegiatan alam kita harus mengetahui
dimana yang akan kita digunakan, misalnya:
Tangkiling-Bukit Batu-Palangkaraya.
• Who (Siapa), apakah anda akan melakukan
kegiatan alam tersebut sendiri atau
dengan berkelompok. contoh: satu kelompok (25
personil) terdiri dari 5 orang
anggota penuh (panitia) dan 20 orang siswa
DIKLAT (peserta)
• Why (Mengapa), ini adalah pertanyaan yang
cukup panjang jawabannya dan bisa
bermacam-macam contoh : Untuk melakukan
DIKLATSAR.
• When (Kapan) waktu pelaksanaan kegiatan
tersebut, berapa lama ? contoh : 23
Februari 2005 sampai dengan 25 Februari 2005
Dari pertanyaan-pertanyaan 4 W, maka didapat
suatu gambaran sebagai berikut: pada
tanggal 23-25 Februari 2007 akan diadakan
DIKLAT, yang akan dilaksanakan oleh 5
panitia dan diikuti 20 orang siswa DIKLAT.
Tempat yang digunakan untuk DIKLAT
tersebut yaitu di Lompobattang-Bawakaraeng.
Untuk How [Bagaimana] merupakan suatu
pembahasan yang lebih komprehensif dari
jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah
sebagai berikut :
• Bagaimana kondisi lokasi
• Bagaimana cuaca disana
• Bagaimana perizinannya
• Bagaimana mendapatkan air
• Bagaimana pengaturan tugas panitia
• Bagaimana acara akan berlangsung
• Bagaimana materi yang disampaikan
• dan masih banyak “bagaimana ?” lagi (silahkan
anda mengembangkannya lagi)
Dari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang
timbul itulah kita dapat menyusun
rencana gegiatan yang didalamnya mencakup
rincian :
1. Pemilihan medan, dengan memperhitungkan
lokasi basecamp, pembagian waktu dan
sebagainya.
2. Pengurusan perizinan
3. Pembagian tugas panitia
4. Persiapan kebutuhan acara
5. Kebutuhan peralatan dan perlengkapan
6. dan lain sebagainya.
Keberhasilan suatu kegiatan di alam terbuka juga
ditentukan oleh perencanaan dan
perbekalan yang tepat. Dalam merencanakan
perlengkapan perjalanan terdapat
beberapa hal yang perlu diperhatikan,
diantaranya adalah :
1. Mengenal jenis medan yang akan dihadapi
(hutan, rawa, tebing, dll)
2. Menentukan tujuan perjalanan (penjelajahan,
latihan, penelitian, SAR, dll)
3. Mengetahui lamanya perjalanan (misalnya 3
hari, seminggu, sebulan, dsb)
4. Mengetahui keterbatasan kemampuan fisik
untuk membawa beban
5. Memperhatikan hal-hal khusus (misalnya :
obat-obatan tertentu)
Setelah mengetahui hal-hal tersebut, maka kita
dapat menyiapkan perlengkapan dan
perbekalan yang sesuai dan selengkap mungkin,
tetapi beratnya tidak melebihi
sepertiga berat badan (sekitar 15-20 kg),
walaupun ada yang mempunyai kemampuan
mengangkat beban sampai 30 kg.
Dari kegiatan penjelajahan, ada beberapa jenis
perjalanan yang disesuaikan dengan
medannya, yaitu :
1. Perjalanan pendakian gunung
2. Perjalanan menempuh rimba
3. Perjalanan penyusuran sungai, pantai dan rawa
4. Perjalanan penelusuran gua
5. Perjalanan pelayaran
Untuk perjalanan ilmiah dan kemanusiaan, bisa
pula dikelompokkan berdasarkan jenis
medan yang dihadapi. Dari setiap kegiatan
tersebut, kita dapat mengelompokkan
perlengkapannya sebagai berikut :
1. Perlengkapan dasar, meliputi :
o Perlengkapan dalam perjalanan / pergerakkan
o Perlengkapan untuk istirahat
o Perlengkapan makan dan minum
o Perlengkapan mandi
o Perlengkapan pribadi
2. Perlengkapan khusus, disesuaikan dengan
perjalananan, misalnya
o Perlengkapan penelitian (kamera, buku, dll)
o Perlengkapan penyusuran sungai (perahu,
dayung, pelampung, dll)
o Perlengkapan pendakian tebing batu
(carabineer, tali, chock, dll)
o Perlengkapan penelusuran gua (helm,
headlamp/senter, harness, sepatu karet, dll)
3. Perlengkapan tambahan
Perlengkapan ini dapat dibawa atau tergantung
evaluasi yang dilakukan (misalnya :
semir, kelambu, gaiter, dll).
Mengingat pentingnya penyusunan perlengkapan
dalam suatu perjalanan, maka sebelum
memulai kegiatan, sebaiknya dibuatkan check-list
terlebih dahulu. Perlengkapan
dikelompokkan menurut jenisnya, lalu periksa lagi
mana yang perlu dibawa dan
tidak.
Apabila perjalanan kita lakukan dengan
berkelompok, maka check-list nya untuk
perlengkapan regu dan pribadi. Dalam perjalanan
besar dan memerlukan waktu yang
lama, kita perlu menentukan perlengkapan dan
perbekalan mana saja yang dibawa dari
rumah atau titik keberangktan, dan perlengkapan
atau perbekalan mana saja yang
bisa dibeli di lokasi terdekat dengan tujuan
perjalanan kita.
Yang tidak kalah pentingnya adalah anda akan
mendapatkan point-point bagi
kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan
kegiatan tersebut.
Packing
Sebelum melakukan kegiatan alam bebas kita
biasanya menentukan dahulu peralatan
dan perlengkapan yang akan dibawa, jika telah
siap semua inilah saatnya mempacking
barang-barang tersebut ke dalam carier atau
backpack. Packing yang baik menjadikan
perjalanan anda nyaman karena ringkas dan tidak
menyulitkan.
Prinsip dasar yang mutlak dalam mempacking
adalah :
1. Pada saat back-pack dipakai beban terberat
harus jatuh ke pundak, Mengapa
beban harus jatuh kepundak, ini disebabkan
dalam melakukan perjalanan [misalnya
pendakian] kedua kaki kita harus dalam keadaan
bebas bergerak, jika salah
mempacking barang dan beban terberat jatuh
kepinggul akibatnya adalah kaki tidak
dapat bebas bergerak dan menjadi cepat lelah
karena beban backpack anda menekan
pinggul belakang. Ingat : Letakkan barang yang
berat pada bagian teratas dan
terdekat dengan punggung.
2. Membagi berat beban secara seimbang antara
bagian kanan dan kiri pundak
Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu
bagian pundak dan memudahkan anda
menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur
berbahaya yang membutuhkan
keseimbangan seperti : meniti jembatan dari
sebatang pohon, berjalan dibibir
jurang, dan keadaan lainnya.
Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :
• Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu
tempatkan dalam satu kantung
untuk mempermudah pengorganisasiannya.
Misal : alat mandi ditaruh dalam satu
kantung plastik.
• Maksimalkan tempat yang ada, misalkan
Nesting (Panci Serbaguna) jangan
dibiarkan kosong bagian dalamnya saat
dimasukkan ke dalam carrier, isikan bahan
makanan kedalamnya, misal : beras dan telur.
• Tempatkan barang yang sering digunakan pada
tempat yang mudah dicapai pada
saat diperlukan, misalnya: rain coat/jas hujan
pada kantong samping carrier.
• Hindarkan menggantungkan barang-barang
diluar carrier, karena barang diluar
carrier akan mengganggu perjalanan anda akibat
tersangkut-sangkut dan berkesan
berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking
dalam carrier.
Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat
oleh anda, sebenarnya adalah suatu
angka yang relatif, patokan umum idealnya
adalah 1/3 dari berat badan anda ,
tetapi ini kembali lagi ke kemampuan fisik setiap
individu, yang terbaik adalah
dengan tidak memaksakan diri, lagi pula anda
dapat menyiasati pemilihan barang
yang akan dibawa dengan selalu memilih barang/
alat yang berfungsi ganda dengan
bobot yang ringan dan hanya membawa barang
yang benar-benar perlu.
Memilih dan Menempatkan Barang
Dalam memilih barang yang akan dibawa pergi
mendaki atau kegiatan alam bebas
selalu cari alat/perlengkapan yang berfungsi
ganda, tujuannya apalagi kalau bukan
untuk meringankan berat beban yang harus anda
bawa, contoh : Alumunium foil, bisa
untuk pengganti piring, bisa untuk membungkus
sisa nasi untuk dimakan nanti, dan
yang penting bisa dilipat hingga tidak memakan
tempat di carrier.
Matras ; Sebisa mungkin matras disimpan
didalam carrier jika akan pergi kelokasi
yang hutannya lebat, atau jika akan membuka
jalur pendakian baru. Banyak rekan
pendaki yang lebih senang mengikatkan matras
diluar, memang kelihatannya bagus
tetapi jika sudah berada di jalur pendakian, baru
terasa bahwa metode ini
mengakibatkan matras sering nyangkut ke
batang pohon dan semak tinggi, lagipula
pada saat akan digunakan matrasnya sudah
kotor.
Kantung Plastik ; Selalu siapkan kantung plastik
didalam carreir anda, karena akan
berguna sekali nanti misalnya untuk tempat
sampah yang harus anda bawa turun, baju
basah dan lain sebagainya. Gunakan selalu
kantung plastik untuk mengorganisir
barang barang didalam carrier anda (dapat
dikelompokkan masing-masing pakaian,
makanan dan item lainnya), ini untuk
mempermudah jika sewaktu-waktu anda ingin
memilih pakaian, makanan dsb.
Menyimpan Pakaian ;
Jika anda meragukan carrier yang anda gunakan
kedap air atau tidak, selalu bungkus
pakaian anda didalam kantung plastik [dry-zax],
gunanya agar pakaian tidak basah
dan lembab. Sebaiknya pakaian kotor dipisahkan
dalam kantung tersendiri dan tidak
dicampur dengan pakaian bersih.
Menyimpan Makanan ;
Pada gunung-gunung tertentu (misalnya Rinjani)
usahakan makanan dibungkus dengan
plastik dan ditutup rapat kemudian dimasukkan
kedalam keril, karena monyet-monyet
didekat puncak / base camp terakhir suka
membongkar isi tenda untuk mencari
makanan.
Menyimpan Korek Api Batangan ;
Simpan korek api batangan anda didalam bekas
tempat film (photo), agar korek api
anda selalu kering.
Packing Barang / Menyusun Barang Di Carrier ;
Selalu simpan barang yang paling berat diposisi
atas, gunanya agar pada saat
carrier digunakan, beban terberat berada
dipundak anda dan bukan di pinggang anda
hingga memudahkan kaki melangkah.
Perlengkapan Pribadi Alam Bebas
Outdoor activity atau kegiatan alam bebas
merupakan kegiatan yang penuh resiko dan
memerlukan perhitungan yang cermat. Jika
salah-salah maka bukan mustahil musibah
akan mengancam setiap saat. Sebagai contoh,
sebuah referensi pernah mencatat bahwa
salah satu kegiatan alam bebas yaitu rock
climbing [panjat tebing] merupakan jenis
olahraga yang resiko kematiannya merupakan
peringkat ke-2 setelah olahraga balap
mobil formula-1.
Tentu saja resiko tersebut terjadi apabila safety-
procedure tidak menjadi
perhatian yang serius, tetapi apabila safety-
procedure diperhatikan dan sering
berlatih, maka resiko tersebut dapat ditekan
sampai titik paling aman.
Perjalanan alam bebas pasti akan bersentuhan
dengan cuaca, situasi medan dan waktu
yang kadang tidak bersahabat, baik malam atau
siang hari, oleh karena itu perlu
dipersiapkan perlengkapan yang memadai.
Salah satu “perisai diri” ketika melakukan
aktivitas alam bebas adalah
perlengkapan diri pribadi. Berikut digambarkan
beberapa perlengkapan pribadi
standard.
1. Tutup kepala/topi
Untuk melindungi diri dari cuaca panas atau
dingin perlu penutup kepala. Dalam
keadaan panas atau hujan, maka tutup kepala
yang baik adalah yang juga dapat
melindungi kepala dan wajah sekaligus. Untuk ini
pilihan terbaik adalah topi rimba
atau topi yang punya pelindung keliling. Topi pet
atau topi softball tidak
direkomendasikan.
Pada cuaca dingin malam hari atau di daerah
tinggi, maka penutup kepala yang baik
adlah yang dapat memberikan rasa hangat.
Pilihannya adalah balaklava atau biasa
disebut kupluk.
2. Syal-slayer
Slayer atau syal bukan hanya digunakan sebagai
identitas organisasi, tetapi
sebetulnya mempunyai fungsi lainnya. Syal/slayer
dapat digunakan untuk
menghangatkan leher ketika cuaca dingin, dapat
juga digunakan sebagai saringan air
ketika survival. Syal/slayer juga sangat berguna
ketika dalam keadaan darurat,
baik digunakan untuk perban darurat atau
sebagai alat peraga darurat. Oleh
karenanya disarankan menggunakan syal/slayer
yang berwarna mecolok dan terbuat
dari bahan yang kuat serta dapat menyerap air
namun cepat kering.
3. Baju
Kebutuhan ini multak, tidak bisa beraktivitas
tanpa baju [bayangkan kalau tanpa
ini, maka kulit akan terbakar matahari]. Baju yang
baik adalah dari bahan yang
dapat menyerap keringat, tidak disarankan
menggunakan baju dari bahan nilon karena
panas dan tidak dapat meyerap keringat. Baju
dengan bahan demikian biasanya adalah
planel atau paling tidak kaos dari bahan katun.
Pilihan warna untuk aktivitas lapangan seperti
halnya juga slayer/syal adalah yang
mencolok agar bisa terjadi keadaan darurat
[misalnya hilang] dapat dengan mudah
diidentifikasi dan dikenali.
Dalam beraktivitas di alam bebas jangan pernah
melupakan baju salin/ganti, hal ini
karena aktivitas lapangan akan sangat banyak
mengeluarkan energi yang membuat
badan kita berkeringat. Bawalah baju salain 2
atau 3 buah.
4. Celana
Celana lapang yang baik adalah yang memnuhi
syarat ringan, mudah kering dan dapat
menyerap keringat. Pemakaian bahan jeans
sangat tidak direkomendasikan karena
berat dan susah kering dan membuat lecet.
Celana yang baik adalah kain dengan
tenunan ripstop [bila berlubang kecil tidak
merembet atau robek memanjang]. Bila
aktivitas dilakukan di daerah pantai atau perairan
juga baik bila menggunakan
bahan dari parasut tipis.
Selain celana panjang, jangan lupa bahwa under-
wear juga penting. jangan lupa juga
untuk menyediakan serep ganti.
5. Jaket
Salah satu perlengkapan penting dalam alam
bebas adalah jaket. Jaket digunakan
untuk melindungi diri dari dingin bahkan sengatan
matahari atau hujan.
Jaket yang baik adalah model larva, yaitu jaket
yang panjang sampai ke pangkal
paha. Jaket ini juga biasanya dilengkapi dengan
penutup kepala [kupluk]. Akan
sangat baik bila jaket yang memiliki dua lapisan
(double-layer). Lapisan dalam
biasanya berbahan penghangat dan menyeyerap
keringat seperti wool atau polartex,
sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan
dingin. Kini teknologi tekstil sudah
mampu memproduksi Gore-Tex bahan jaket yang
nyaman dipakai saat mendaki bahan ini
memungkinkan kulit tetap bernafas, tidak gerah
mengeluarkan keringat mampu menahan
angin (wind breaking) dan resapan air hujan
(water proff) sayang, bahan ini masih
mahal. Yang paling baik jaket terbuat dari bulu
angsa-biasanya digunakan untuk
kegiatan pendakian gunung es].
6. Slepping bag
Istirahat adalah kebutuhan pegiat alam bebas
setelah aktivitas yang melelahkan
seharian. Tempat istirahat yang ideal adalah
dengan menggunakan slepping bag
[kantong tidur]. Slepping bag yang baik juga
biasanya terbuat dari dua sisi, yaitu
yang dingin, licin dan tahan air satu sisi, dan
yang hangat dan tebal disisi lain.
Penggunaannya sesuai dengan cuaca saat
istirahat.
7. Sepatu
Sepatu yang baik yaitu yang melindungi tapak
kaki sampai mata kaki, kulit tebal
tidak mudah sobek bila kena duri. keras bagian
depannya, untuk melindungi ujung
jari kaki apabila terbentur batu. bentuk sol
bawahnya dapat menggigit ke segala
arah dan cukup kaku, ada lubang ventilasi
bersekat halus. Gunakan sepatu yang
dapat dikencangkan dan dieratkan pemakaiannya
[menggunakan ban atau tali.
Dilapangan sepatu tidak boleh longgar karena
akan menyebabkan pergesekan kaki
dengan sepatu yang berakibat lecet. Penggunaan
sepatu juga harus dibarengi dengan
kaos kaki. Untuk ini juga sebaiknya disediakan
kaos kaki serep bila suatu saat
basah.
8. Carrier
Carrier bag atau ransel sebaiknya gunakan yang
tidak terlalu besar tetapi juga
tidak terlampau kecil, artinya mampu
menampung perlengkapan dan peralatan yang
dibawa. Sebaiknya jangan menggunakan carrier
yang mempunyai banyak kantong
dibagian luar karena dalam keadaan tertentu ini
akan menghambat pergerakan.
Gunakan carrier yang ramping walaupun agak
tinggi, ini lebih baik daripada yang
gemuk tetapi rendah. Sebelum berangkat harus
diperhatikan jahitan-jahitannya,
karena kerusakan pada jahitan terutama sabuk
sandang akan berakibat sangat fatal.
9. Alat masak, makan dan mandi
Perlengkapan sangat penting lainnya adalah alat
masak, makan dan mandi.
Bagimanapun juga dalam kondisi lapangan kita
sangat perlu untuk menghemat aktu dan
bahan masalak. Gunakan alat dari alumunium
karena cepat panas, untuk ini nesting
menjadi pilihan yang sangat baik, disamping dia
ringkas dan serba guna. Juga perlu
dipersiapkan alat bantu makan lainnya (sendok,
piring, dll) dan pastikan bahan
bakar untuk memasak / membuat api seperti lilin,
spirtus, parafin, dll.
Jangan lupa juga siapkan phiples minum sebagai
bekal perjalanan [saat ini banyak
tersedia model dan jenis phipless].
Perlengkapan mandi juga sangat penting karena
tidak jarang perjalanan dilakukan
berhari-hari dengan tubuh penuh keringat.
Bawalah alat mandi seperti sabun yang
berkemasan tube agar mudah disimpan dan tidak
perlu membuang sampah bungkusan
disembarang tempat.
10. Obat-obatan dan Survival Kits
Perlengkapan pribadi lainnya yang sangat penting
adalah obat-obatan, apalagi kalau
pegiat mempunyai penyakit khusus tertentu
seperti asma. Disamping obat-obatan juga
setidaknya mempunyai kelengkapan survival kits.
Perencanaan Perbekalan
Dalam perencanaan perjalanan, perencanaan
perbekalan merupakan salah satu hal yang
perlu mendapat perhatian khusus. Beberapa hal
yang perlu diperhatikan :
Lamanya perjalanan yang akan dilakukan
Aktifitas apa saja yang akan dilakukan
Keadaaan medan yang akan dihadapi (terjal,
sering hujan, dsb)
Sehubungan dengan keadaan diatas, ada
beberapa syarat yang harus diperhatikan
dalam merencanakan perjalanan:
a. Cukup mengandung kalori dan mempunyai
komposisi gizi yang memadai.
b. Terlindung dari kerusakan, tahan lama, dan
mudah menanganinya.
c. Sebaiknya makanan yang siap saji atau tidak
perlu dimasak terlalu lama, irit
air dan bahan bakar.
d. Ringan, mudah didapat
e. Murah
Untuk dapat merencanakan komposisi bahan
makanan agar sesuai dengan syarat-syarat
diatas, kita dapat mengkajinya dengan langkah-
langkah berikut :
Dengan informasi yang cukup lengkap, perkirakan
kondisi medan, aktifitas tubuh
yang perlukan, dan lamanya waktu. Perhitungkan
jumlah kalori yang diperlukan.
Susun daftar makanan yang memenuhi syarat
diatas, kemudian kelompokan menurut
komposisi dominan. Hidrat arang, ptotein, lemak,
hitung masing-masing kalori
totalnya (setelah siap dimakan).
Perhitungan untuk vitamin dan mineral dapat
dilakukan terakhir, dan apabila ada
kekurangan dapat ditambah tablet vitamin dan
mineral secukupnya.
Catatan :
Kandungan kalori : – hidrat arang 4 kal/gr
– lemak 9 kal/gr
– protein 4 kal/gr
Kalori paling cepat didapat dari :
1. Hidrat arang
2. lemak
3. protein
Kebutuhan kalori per 100 pounds berat badan
(sekitar 45 kg)
1 Metabolisme basal 1100 kalori
2 Aktifitas tubuh :
Jalan Kaki 2 mil/jam 45 kal/jam
3 mil/jam 90 kal/jam
4 mil/jam 160 kal/jam
Memotong kayu/tebas
260 kal/jam
Makan
20 kal/jam
Duduk (diam)
20 kal/jam
Bongkar pasang ransel, buat camp
50 kal/jam
Menggigil
220 kal/jam
3 Aktifitas dinamis khusus = 6 – 8 % dari 1 dan 2
4 Total kalori yang dibutuhkan = 1 + 2 + 3
Jenis Bahan Makanan dan Macam Makanan
Sumber kalori dari hidrat arang tiap 100 gram
Beras giling 360 kal Nasi 178 kal
Havermout 390 kal Kentang 90 kal
Singkong 140 kal Macaroni 363 kal
Maizena 343 kal Roti 248 kal
Tape singkong 173 kal Gaplek 363 kal
Biskuit 458 kal Sagu 353 kal
Terigu 365 kal Ubi 123 kal
Gula pasir 364 kal Gula aren 368 kal
Madu 294 kal Coklat pahit 504 kal
Coklat manis 472 kal Coklat susu 381 kal
Sumber Protein (tiap 100 gram)
Tempe 119 kla
Kacang tanah rebus dengan kulit 360 kal
Telur ayam 162 kal
Telur bebek 189 kal
Sumber protein dan lemak (tiap 100 gram)
Corned 241 kal
Daging asap 191 kal
Dendeng 433 kal
Sardens 338 kal
Menu makanan satu hari :
Mie 1.5 gelas 335 kal
Susu kental manis ½ gelas 336 kal
Dodol ½ ons 200 kal
Coklat 1 ons 472 kal
Nasi 2 ons 360 kal
Roti 1 ons 248 kal
Biscuit 1 ons 458 kal
Corned ½ ons 120 kal
Dendeng 1 ons 433 kal
TOTAL 2962 kal
“Bila engkau tidak dapat menjadi beringin yang
tegak diatas puncak bukit, maka
jadilah saja rumput, tetapi rumput yang tumbuh
memperkuat tanggul. Bila engkau
tidak bisa menjadi jalan besar, maka jadilah saja
jalan setapak, tetapi jalan
setapak yang menuju ke mata air. Tidak
semuanya dapat menjadi nahkoda, tentu harus
ada kelasi. Sebaik-baiknya engkau adalah
menjadi dirimu sendiri.”
Perjalanan ke alam terbuka pasti mengandung
resiko. Tiap perjalanan memiliki
tingkat resiko dan bahaya yang bervariasi.bahaya
dan resiko tersebut dapat jauh
diminimalisir dengan berbagai persiapan.
Persiapan umum yang harus dimiliki
seorang pendaki sebelum mulai naik gunung
antara lain:
1. Membawa alat navigasi berupa peta lokasi
pendakian, peta, altimeter [Alat
pengukur ketinggian suatu tempat dari
permukaan laut], atau kompas. Untuk itu,
seorang pendaki harus paham bagaimana
membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan
sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak
ada yang berpengalaman mendaki
dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.
2. Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat.
Berolahragalah seperti lari atau
berenang secara rutin sebelum mendaki.
3. Bawalah peralatan pendakian yang sesuai.
Misalnya jaket anti air atau ponco,
pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu
harus kering dengan baju perjalanan,
sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter
dan baterai secukupnya, tenda,
kantung tidur, matras.
4. Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan
kebutuhan logistik. Berapa
banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk
pauk, dan piring serta gelas.
Bawalah wadah air yang harus selalu terisi
sepanjang perjalanan.
5. Bawalah peralatan medis, seperti obat merah,
perban, dan obat-obat khusus
bagi penderita penyakit tertentu.
6. Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi
dengan kelompok pencinta alam yang
kini telah tersebar di sekolah menengah atau
universitas-universitas.
7. Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup
meneruskan perjalanan, jangan
ragu untuk kembali pulang.
Memang, mendaki gunung memiliki unsur
petualangan. Petualangan adalah sebagai satu
bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak
pasti mengenai hasil perjalanan
dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena
suksesnya perjalanan tersebut.
Perasaan yang muncul saat bertualang adalah
rasa takut menghadapi bahaya secara
fisik atau psikologis. Tanpa adanya rasa takut
maka tidak ada petualangan karena
tidak ada pula tantangan.
Risiko mendaki gunung yang tinggi, tidak
menghalangi para pendaki untuk tetap
melanjutan pendakian, karena Zuckerma
menyatakan bahwa para pendaki gunung
memiliki kecenderungan sensation seeking
[pemburuan sensasi] tinggi. Para
sensation seeker menganggap dan menerima
risiko sebagai nilai atau harga dari
sesuatu yang didapatkan dari sensasi atau
pengalaman itu sendiri. Pengalamanpengalaman
yang menyenangkan maupun kurang
menyenangkan tersebut membentuk selfesteem
[kebanggaan /kepercayaan diri].
Pengalaman-pengalaman ini selanjutnya
menimbulkan perasaan individu tentang
dirinya, baik perasaan positif maupun perasaan
negatif. Perjalanan pendakian yang
dilakukan oleh para pendaki menghasilkan
pengalaman, yaitu pengalaman keberhasilan
dan sukses mendaki gunung, atau gagal mendaki
gunung. Kesuksesan yang merupakan
faktor penunjang tinggi rendahnya self-esteem,
merupakan bagian dari pengalaman
para pendaki dalam mendaki gunung.
Fenomena yang terjadi adalah apakah mendaki
gunung bagi para pendaki merupakan
sensation seeking untuk meningkatkan self-
esteem mereka? Selanjutnya, sensation
seeking bagi para pendaki gunung kemungkinan
memiliki hubungan dengan self-esteem
pendaki tersebut. Karena pengalaman yang
dialami para pendaki dalam pendakian
dapat berupa keberhasilan maupun kegagalan.
Persiapan mendaki gunung
Persiapan umum untuk mendaki gunung antara
lain kesiapan mental, fisik, etika,
pengetahuan dan ketrampilan.
• Kesiapan mental.
Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya
sedang fit, maka fisik pun akan
fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.
• Kesiapan fisik.
Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan,
misalnya : Stretching
/perenggangan [sebelum dan sesudah melakukan
aktifitas olahraga, lakukanlah
perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih
kelenturannya]. Jogging (lari pelanpelan)
Lama waktu dan jarak sesuai dengan
kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan
kecepatan selalu kita tambah dari waktu
sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja situp,
push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan
kita dan tambahlah porsinya
melebihi porsi sebelumnya.
• Kesiapan administrasi.
Mempersiapkan seluruh prosedur yang
dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan
yang akan dituju.
• Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan.
Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas.
Kemampuan minimal yang perlu bagi
pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi
darat, survival serta EMC [emergency
medical care] praktis.
Mengenal Jenis Gunung dan Grade Pendakian
Pada garis besar gunung terbagi menjadi 2, yaitu
gunung berapi/aktif dan tidak
aktif. Berdasar bentuknya dibagi menjadi :
1. Gunung berapi perisai (Gunung berapi lava) ==
seperti perisai
2. Gunung berapi strato
3. Gunung berapi maar == Gunung berapi yang
meletus sekali dan segala aktivitas
vulkanisme terhenti, yang tinggal hanya
kawahnya saja.
Macam dan tingkat pendakian gunung macam
pendakian, yaitu pendakian gunung
bersalju (es) dan gunung batu. Keduanya
mambutuhkan persiapan dan perlengkapan
yang matang. Menurut Club “Mountaineers”,
Seatle Washington, dasar pembagian
tingkat pendakian ada dua cara.
1. Berdasar penggunaan alat teknis yang dipakai
( class)
• class 1 ; lintas alam tanpa bantuan tangan
• class 2 ; dibutuhkan bantuan tangan
• class 3 ; pendakian yang mudah memerlukan
kaki dan tangan dalam mendaki,
tali mungkin dibutuhkan oleh pemula
• class 4 ; pendakian memerlukan tali pengaman
• class 5 ; dibutuhkan tali dan pengaman
peralatan lain seperti : piton,
runner, chocks dll
• class 6 ; mandaki dengan tali dengan peralatan
bantuan sepenuhnya berpijak
diatas paku tebing, memenjat rantai sling atau
mengunakan stirupss
Pendakian claass 4 masuk dalam katagori
scrembling [Mendaki dengan cara
mempergunakan badan sebagai keseimbangan
serta tangan untuk berpegangan dengan
medan yang miring sampai 45 derajat] dan class
5 – 6 sudah dapat dikatagorikan
sebagai climbing [panjat]. Dimana class 5
merupakan free-climbing [Pemanjatan
dengan tanpa menggunakan alat tehnis untuk
menambah ketinggian, alat hanya sebagai
pengaman saja ] dan class 6 adalah artificial
climbing [Pemanjatan dengan
menggunakan alat tehnis sebagai pembantu
menambah ketinggian, misalnya dipijak
atau disentak dan dipegang ]. Apa bila dilakukan
di gunung batu / cadas disebut
rock climbing dan bila dilakukan di gunung es
disebut dengan snow and ice climbing
.
2. Berdasar lama waktu akibat sukarnya
pendakian dalam medan pendakian (grade)
• grade I, bagian yang sukar dapat ditempuh
dalam beberapa jam
• grade II, bagian yang sukar ditempuh dalam
setengah hari
• grade III, bagian yang sukar ditempuh dalam
sehari penuh
• grade IV, bagian yang sukar ditempuh dalam
sehari penuh dan memerlukan
bantuan lereng-lereng sempit untuk bisa naik
• grade V, bagian yang sukar ditempuh dalam
waktu 1,5-2,5 hari
• grade VI, bagian yang sukar ditempuh dalam
waktu 2 hari atau lebih dan
dengan banyak sekali kesulitan
3. Berdasarkan tingkat keamanan pemanjat dari
kemampuan alat yang digunakan
• A1 ;aman sekali, peralatan yang dipasang dan
digunakan dapat diandalkan
untuk menjaga keselamatan pendaki
• A2 ;aman, jikapun terjadi masalah, alat masih
dapat diandalkan untuk
mencegah akibat yang lebih fatal [misalnya jatuh
tidak sampai kedasar]
• A3 ;penggunan alat pengaman cukup aman
tetapi tidak dapat diandalkan untuk
menjaga resiko jatuh, kecuali dengan
pemasangan yang sangat teliti dan fall-faktor
yang tidak terlalu berbeban tinggi. Bila fall faktor
tinggi, maka alat-alat akan
copot dan pendaki bisa menerima akibat fatal
• A4 ;pengaman yang digunakan tidak dapat
diharapkan untuk dapat menahan beban
jatuh, cenderung hanya sebagai pengaman
psykologis untuk menguatkan mental pendaki
4. Berdasarkan tingkat kesulitan [difficult] medan
pendakian
Tingkatan pedakian dengan dasar perhitungan ini
bisa disebut juga dengan Yossemite
Decimal System [YDS]. Pang-katagorian berasal
dari USA dan saat ini banyak di
gunakan untuk menentukan grade kesulitan
panjat tebing. Oleh karena itu YDS
dimulai dengan grade 5 dan seterusnya.
Pengkatagorian demikian biasanya digunakan
untuk jenis pendakian free-climbing atau free-
soloing [Memanjat sendiri tanpa alat
bantu dan pengaman apapun, biasanya pada jalur
pendek]
Anehnya YDS sendiri menyalahi kaidah
matematis penghitungan decimal, dimana
misalnya suatu jalur mempunyai ketinggian 5,9
[lima point sembilan] lalu grade
selanjutnya menjadi 5.10 [lima point sepuluh].
Peng-angka-an ini menjadi “aneh”
akibat grade 5.9 lebih rendah dibanding dengan
5.10, padahal dalam matematika
sebaliknya.
YDS sendiri diawali dengan grade 5.8 atau 5.9,
selanjutnya 5.10, 5.11, 5.12, 5.13
dan 5.14. Sampai saat ini tidak ada grade
melebihi 5.14.
Perkembangan keanehan peng-angka-an decimal
ini menurut beberapa diskusi pegiatan
pendakian dan panjat tebing akibat keselahan
memprediksikan kemampuan pendakian
pada saat system YDS dipublikasikan. Dimana
pada saat itu diperkirakan kemampuan
pendakian / panjat hanya sampai grade 5.9.
Padahal dalam kemudian berkembangan
kemampuan pendakian / pemanjatan yang lebih
mutakhir dan luar bisa.
Bahkan saking sulitnya menentukan dengan
hanya angka-angka decimal yang terbatas,
seiring dengan banyaknya jalur pendakian/
pemanjatan yang dibuat oleh kalangan
pemanjat, maka grade decimalpun ditambahkan
dibelangkannya dengan alfhabet.
Contoh; 5.12a, 5.13 d atau 5.14 c
Memang sampai saat sekarang barangkali hanya
ada beberapa jalur yang dibuat
manusia dengan grade 5.14, itupun terbatas pada
jalur-jalur pendek.
Secara umum grading dengan YDS dapat
dijelaskan sebagai berikut :
• 5.8 ; jalur yang ditempuh mudah, grip
[pegangan] sangat bisa digunakan oleh
bagian tubuh yang ada untuk menambah
ketinggian
• 5.9 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3
bertahan 1 mencari
• 5.10 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3
bertahan 1 mencari, hanya saja
perlu keseimbangan [balance] yang baik
• 5.11 ; dapat bertahan pada 2 atau 3 grip
dengan satu diantaranya sangat
minim dan perlu keseimbangan. Jalur hang
hampir bisa dipastikan memiliki grade
demikian.
• 5.12 ; terdapat 2 dari 2 kaki dan 2 tangan yang
dapat digunakan untuk
menambah ketinggian. Dengan kondisi grip yang
kecil di satu bagiannya atau paling
tidak sama
• 5.13 ; hanya 1 dari diantara 2 kaki dan 2 tangan
yang dapat digunakan untuk
menambah ketinggian, itupun dengan grip yang
sangat minim.
• 5.14 ; “mulus seperti kaca”, tidak mungkin
terpikirkan untuk dapat dibuat
jalur pendakian/pemanjatan
Makanan (logistik)
Makanan yang dibawa seharusnya dapat
memenuhi kebutuhan energi pendaki, selama
pendakian seserorang membutuhkan sitar 5.000
kalori dan 100 gram protein, kalori
dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi nasi.
Namun ada baiknya hanya memakan nasi satu
kali sehari di kala malam (saat berkemah)
alasayanya beras realtif berat dan
memerluakan waktu yang lama untu memasak
serta menghabiskan banyak bahan bakar.
Fungsi beras dapat diganti dengan roti, biskuit,
coklat, dan hevermit.
Hal yang perlu diperjatikan hindari mengkonsumsi
makanan yang harus dimasak lebih
dahulu selama mendaki, karena hal ini hanya
akan merepotkan dan menghabiskan waktu
perjalanan. Pilihlah makanan praktis seperti
coklat, roti, agar-agar, buah-buahan,
dapat juga dibuat mixfood yang terdiri atas
kacang, coklat, biskuit dan kismis.
Umumnya makanan yang paling praktis dibawa
adalah makanan instan yang memiliki
kemasan, buanglah kemasan karton sebelum
dimasukan dalam ransel dengan demikian
berat ransel dapat berkurang dan makanan yang
dibawapun tidak banyak memakan
tempat didalam ransel.
Peralatan lain
Selain peralatan dan sejumlah perlengkapan,
jangan lupa membawa perlengkapan kecil
yang terdanag dirasa sepele, namun amat
penting. Perlengkapan itu berupa obatobatan
seperti pelester, obat merah, tisu basah dan
kering, senter, benang, jarum
jahit, jam dan alat tulis. Peralatan itu terkandang
dibutuhkan dalam keadaan
darurat atau menjaga tubuh tetap bersih.
Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah
jangan lupa membawa tas / kantong
plastik, tas plastik tersebut dibutuhkan untuk
menaruh barang-barang yang kotor
dan basah sebelum dicuci dan tas plastik juga
berfungsi untuk membawa kembali
sampah-sampah pendakian, sampah-sampah sisa
makanan atau berkemah, janganlah
dibuang begitu saja di alam terbuka. Selain
megotori, membuang sampah dapat
menyulitkan usaha pencarian dan pertolongan
bagi pendaki yang tersesat atau
mengalami kecelakaan, kerap kali usaha
pencarian oarang tersesat terbantu dengan
petunjuk dari barang-barang yang tercecer.
Jenis-Jenis Pendakian / Perjalanan
Olah raga mendaki gunung sebenarnya
mempunyai tingkat dan kualifikasinya. Seperti
yang sering kita kenal dengan istilah
mountaineering atau istilah serupa lainnya.
Menurut bentuk dan jenis medan yang dihadapi,
mountaineering dapat dibagi sebagai
berikut :
1. Hill Walking / Feel Walking
• Perjalanan mendaki bukit-bukit yang relatif
landai. Tidak membutuhkan
peralatan teknis pendakian. Perjalanan ini dapat
memakan waktu sampai beberapa
hari. Contohnya perjalanan ke Gunung Gede atau
Ceremai.
2. Scarmbling
• Pendakian setahap demi setahap pada suatu
permukaan yang tidak begitu
terjal. Tangan kadang-kadang dipergunakan
hanya untuk keseimbangan. Contohnya :
pendakian di sekitar puncak Gunung Gede Jalur
Cibodas.
3. Climbing
• Dikenal sebagai suatu perjalanan pendek, yang
umumnya tidak memakan waktu
lebih dari 1 hari,hanya rekreasi ataupun beberapa
pendakian gunung yang praktis.
Kegiatan pendakian yang membutuhkan
penguasaan teknik mendaki dan penguasaan
pemakaian peralatan.
Bentuk climbing ada 2 macam :
a. Rock Climbing
– pendakian pada tebing-tebing batau atau
dinding karang. Jenis pendakian ini yang
umumnya ada di daerah tropis.
b. Snow and Ice Climbing
– Pendakian pada es dan salju. Pada pendakian
ini, peralatan-peralatan khusus
sangat diperlukan, seperti ice axe, ice screw,
crampton, dll.
PENGETAHUAN DASAR SURVIVAL
Survival berasal dari kata survive yang berarti
mampu mempertahankan diri dari
keadaan tertentu. Dalam hal ini mampu
mempertahankan diri dari keadaan yang buruk
dan kritis. Sedangkan Survivor adalah orang yang
sedang mempertahankan diri dari
keadaan yang buruk.
Survival adalah keadaan dimana diperlukan
perjuangan untuk bertahan hidup.
Survival merupakan kehidupan dengan waktu
mendesak untuk melakukan improvisasi
yang memungkinkan. Kuncinya adalah
menggunakan otak untuk improvisasi.
Statistik membuktikan hampir semua situasi
survival mempunyai batasan waktu yang
singkat hanya 3 hari atau 72 jam bagi orang
hilang, dan yang mampu bertahan cukup
lama tercatat sangat sedikit sekitar 5 persen
itupun karena pengetahuan dan
pengalamannya.
Dalam situasi survival janganlah tergesa-gesa
menentukan prioritas survival karena
dapat berakibat salah, gagasan kaku yang tidak
boleh ditawar-tawar juga akan
berakibat fatal. Ketepatan memutuskan dengan
didukung pengalaman dan hasil diskusi
dapat menguntungkan karena situasi darurat
perlu pertimbangan dan sikap tegas
dalam mencapai tujuan akhir.
Dalam keadaan survival diperlukan pengetahuan
terhadap kondisi dan kebutuhan
tubuh, bukan mutlak mengerti secara fisik tetapi
memahami reaksi atau dampak
akibat pengaruh lingkungan. menggunakan
pengetahuan dalam usaha mengatur diri saat
keadaan darurat adalah kunci dari survival.
Pengaturan disini adalah memelihara
ketrampilan dan kemampuan untuk mengontrol
sumber daya didalam diri dan kemampuan
memecahkan persoalan, bila pengaturan keliru,
tidak hanya badan terganggu akan
tetapi dapat langsung berdampak terhadap
kemampuan untuk tetap hidup. Memahami
jenis kebutuhan hidup yang menjadi prioritas
sangat menguntungkan didalam situasi
survival.
Dalam kondisi survival tantangan yang sangat
dominan adalah sikap mental atau
psikologis untuk mencari kebutuhan tubuh dan
untuk memperolehnya dibutuhkan
gagasan-gagasan dengan dasar pertimbangan
dari pengalaman atau pendidikan yang
pernah diikutinya, pengalaman hidup dengan
resiko tinggi dan aktivitas menantang
terbukti dapat membuat orang belajar untuk
berbuat yang lebih baik dan melakukan
adaptasi efektif.
Berikut adalah contoh susunan prioritas dalam
keadaan survival :
1. Tentunya yang paling utama adalah udara.
bernafas dilakukan setiap detik
untuk bertahan hidup oleh karena itu udara
mendapat prioritas utama untuk bertahan
hidup. survival tanpa udara umumnya hanya
bertahan selama 3 sampai 5 menit.
2. Selanjutnya dibutuhkan perlin- dungan, dari
cuaca buruk dan keganasan alam.
sejak keberadaannya manusia dibatasi
lingkungannya sendiri mulai dari temperatur
yang sangat berpengaruh pada tubuh. Untuk itu
diperlukan sesuatu yang dapat
melindunginya contohnya api yang dapat
menghangatkan dan menjaga temperatur tubuh,
jika tidak ada rumah, tenda atau gua. Api dapat
dimasukkan kedalam prioritas kedua
3. Istirahat, sepele namun dibutuhkan, dengan
istirahat jaringan tubuh akan
terbebas dari CO2, asam dan pemborosan lain.
Istirahat yang dimaksud adalah
istirahat fisik dan juga mental sebab stress dapat
mengurangi kemampuan untuk
bertahan. Dengan demikian istirahat dapat
dimasukkan kedalam prioritas ketiga.
4. Air. Kehilangan cairan dan kondisi air yang
tidak dapat diminum adalah
persoalan didalam survival. Tubuh manusia kira-
kira terdiri dari 2/3 jaringan yang
mengandung air dan merupakan bagian sistem
sirkulasi di dalam organ tubuh. Air
dapat menjaga suhu tubuh, memperlancar buang
air dan mencerna makanan. Kondisi
lingkungan yang exstrem tanpa air dapat
mengurangi kemampuan bertahan hidup hingga
tiga hari, sehingga air dapat dimasukkan kedalam
prioritas keempat. Sangatlah
bijaksana apabila pemakaian air dapat dihemat.
5. Tubuh manusia membutuhkan makanan tiga
kali sehari. Tetapi sementara banyak
manusia di benua lain hanya dapat makan sekali
sehari atau bahkan tidak makan
berhari-hari. Catatan menunjukkan bahwa tanpa
makanan survivor dapat bertahan
selama 40 sampai 70 hari. Keharusan untuk
mendapatkan makanan adalah prioritas
terakhir dalam survival. Penghematan energi
adalah salah satu cara untuk
mengimbangi kekurangan makanan.
Sikap dalam Survival
Sikap cepat tanggap dalam keadaan darurat
sangat diperlukan. Setiap orang harus
dapat berbuat yang terbaik dalam
memprioritaskan pandangan terhadap lingkungan
darurat. Hal ini tidak mudah karena sikap ini
perlu latar belakang pengetahuan dan
keterampilan. Bila semua prioritas telah
diperoleh, tetapi masih kehilangan
kemauan untuk hidup atau kemampuan untuk
menguasai mental yang disebabkan kondisi
fisik, maka akhirnya akan hilang sama sekali.
Kondisi yang demikian sangat
membahayakan dan bahkan sesuatu yang
menguntungkan pun akan dibuangnya. Juga yang
perlu diingat janganlah meremehkan sesuatu
yang anda lihat. Sikap mental positif
sangat diperlukan untuk menganalisa semua
yang bertentangan dengan tubuh.
Apa saja yang berguna dalam mengha- dapi
situasi survival dapat dilihat dalam dua
persoalan :
1. Kesiapan mendiskusikan dengan jelas “apakah
anda ingin hidup ?”, ungkapan
yang sederhana. Secara naluriah manusia
mempunyai insting untuk menjaga diri.
Banyak kegiatan survival yang menunjukkan
adanya jalan keluar dari periode fisik
ekstrem dan mental stress ke posisi tenang.
Sadar atau tidak orang mempunyai
kekuatan untuk dirinya sendiri terhadap
kematian. Oleh karena itu setiap orang
juga mempunyai kekuatan untuk dirinya sendiri
terhadap kehidupan.
2. Kemampuan untuk memecahkan persoalan, hal
ini didapat jika kita mampu
mempertahankan kondisi tubuh. sebagai contoh :
tubuh manusia bekerja optimum
dengan temperatur 37 derajat C. Mengabaikan
temperatur lingkungan akan menyebabkan
penyempitan susunan fungsi inti didalam tubuh
yang efektivitasnya tinggi yang pada
akhirnya akan mengganggu peredaran darah,
menurunkan aktivitas sel, dan akhirnya
otak cepat kehilangan hubungan dengan realitas,
akhirnya bertindak irrasional
berbarengan dengan turunnya koordinasi yang
akhirnya berakibat fatal. Pengetahuan
dan pengalaman tidak ada artinya kalau tubuh
hanya bekerja dengan separuh
kemampuannya, penghematan sumberdaya
seperti energi, panas dan air adalah penting.
Mengapa ada Survival ?
Timbulnya kebutuhan survival karena adanya
usaha manusia untuk keluar dari
kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tsb
antara lain :
• Keadaan alam (cuaca dan medan)
• Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang
dan tumbuhan)
• Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan
kesehatan)
• Banyaknya kesulitan-kesulitan tsb biasanya
timbul akibat kesalahan-kesalahan
kita sendiri. Dalam keadan tersebut ada beberapa
faktor yang menetukan seorang
Survivor mampu bertahan atau tidak, antara lain :
mental, kurang lebih 80%
kesiapan kita dalam survival terletak dari
kesiapan mental kita.
Timbulnya kebutuhan survival karena adanya
usaha manusia untuk keluar dari
kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tsb
antara lain :
• Keadaan alam (cuaca dan medan)
• Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang
dan tumbuhan)
• Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan
kesehatan)
Banyaknya kesulitan-kesulitan tsb biasanya
timbul akibat kesalahan-kesalahan kita
sendiri.
Definisi Survival
Arti survival sendiri terdapat berbagai macam
versi, yang akan kita bahas di sini
hanyalah menurut versi pencinta alam ;
Sadarkan diri dalam keadaan gawat darurat
Usahakan untuk tetap tenang dan tabah
Rasa takut dan putus asa harus hilangkan
Vitalitas mesti ditingkatkan
Ingin tetap hidup dan selamat itu tujuannya
Variasi alam bisa dimanfaatkan
Asal mengerti, berlatih dan tahu caranya
Lancar dan selamat
Jika anda tersesat atau mengalami musibah,
ingat-ingatlah arti survival tersebut,
agar dapat membantu anda keluar dari kesulitan.
Dan yang perlu ditekankan jika
anda tersesat yaitu istilah “STOP” yang artinya :
Stop & seating / berhenti dan duduklah
Thingking / berpikirlah
Observe / amati keadaan sekitar
Planning / buat rencana mengenai tindakan yang
harus dilakukan
Kebutuhan survival
Yang harus dipunyai oleh seorang survivor
adalah :
1. Sikap mental ; Semangat untuk tetap hidup,
Kepercayaan diri, Akal sehat,
Disiplin dan rencana matang serta Kemampuan
belajar dari pengalaman]
2. Pengetahuan ; Cara membuat bivak, Cara
memperoleh air, Cara mendapatkan
makanan, Cara membuat api, Pengetahuan
orientasi medan, Cara mengatasi gangguan
binatang, Cara mencari pertolongan
3. Pengalaman dan latihan ; Latihan
mengidentifikasikan tanaman, Latihan
membuat trap, dll
4. Peralatan ; Kotak survival, Pisau jungle , dll
Langkah yang harus ditempuh bila anda/
kelompok anda tersesat :
1. Mengkoordinasi anggota
2. Melakukan pertolongan pertama
3. Melihat kemampuan anggota
4. Mengadakan orientasi medan
5. Mengadakan penjatahan makanan
6. Membuat rencana dan pembagian tugas
7. Berusaha menyambung komunikasi dengan
dunia kuar
8. Membuat jejak dan perhatian
9. Mendapatkan pertolongan
Bahaya-bahaya dalam Survival
Banyak sekali bahaya dalam survival yang akan
kita hadapi, antara lain :
Ketegangan dan panik
Cara Pencegahan : Sering berlatih, Berpikir
positif dan optimis dan Persiapan
fisik dan mental
Matahari / panas
• Kelelahan panas
• Kejang panas
• Sengatan panas
• Keadaan yang menambah parahnya keadaan
panas : Penyakit akut / kronis, Baru
sembuh dari penyakit Demam, Baru memperoleh
vaksinasi, Kurang tidur, Kelelahan,
Terlalu gemuk, Penyakit kulit yang merata,
Pernah mengalami sengatan udara panas,
Minum alkohol, Dehidrasi.
Pencegahan keadaan panas :
• Aklimitasi
• Persedian air
• Mengurangi aktivitas
• Garam dapur
• Pakaian : Longgar, Lengan panjang, Celana
pendek, Kaos oblong
Serangan penyakit
Penyakit yang biasa diderita pegiat alam bebas
adalah emam, Disentri, Typus,
Malaria
Kemerosotan mental
Gejala : Lemah, lesu, kurang dapat berpikir
dengan baik, histeris
Penyebab : Kejiwaan dan fisik lemah atau
keadaan lingkungan mencekam
Pencegahan : Usahakan tenang dan tentu saja
banyak berlatih
Bahaya binatang beracun dan berbisa
Keracunan
• Gejala ; Pusing dan muntah, nyeri dan kejang
perut, kadang-■ kadang mencret,
kejang kejang seluruh badan, bisa pingsan.
• ■ Penyebab : Makanan dan minuman beracun
• ■ Pencegahan : Air garam di minum, Minum air
sabun mandi panas, Minum teh
pekat atau di tohok anak tekaknya
Keletihan amat sangat
Pencegahan : Makan makanan berkalori dan
Membatasi kegiatan
Bahaya lainnya dalam survival adalah :
Kelaparan, Lecet, Kedinginan [untuk
penurunan suhu tubuh 30° C bisa menyebabkan
kematian]
Membuat Bivouck (Shelter)
Membuat bivouck atau shelter perlindungan
dalam keadaaan darurat sebenarnya
bertujuan untuk untuk melindungi diri dari angin,
panas, hujan, dingin dan
gangguan binatang.
Macam –macam bivouck :
1. Shelter asli alam ; Gua [yang bukan tempat
persembunyian binatang, tidak ada
gas beracun dan tidak mudah longsor]. Ingat !
didalam gua jangan berteriak karena
dapat meruntuhkan dinding gua.
2. Shelter buatan dari alam ; daun-daunan yang
lebar, ranting kayu, atau
separuhnya alam dan separuhnya butan [misalnya
ponco di kombinasi dengan ceruk
batu atau pohon tumbang atau ranting kayu]
Syarat bivouck :
• Hindari daerah aliran air [bila terpaksa, maka
gunakan bivouck panggung]
• Di atas bivouck / shelter tidak ada dahan pohon
mati/rapuh
• Bukan sarang nyamuk/serangga
• Bahan kuat
• Jangan terlalu merusak alam sekitar
• Terlindung langsung dari angin
Mengatasi Gangguan Binatang
Nyamuk ; Obat nyamuk, autan, dll , Bunga kluwih
dibakar, Gombal / kain butut
[dalam keadaan memaksa, penulis pernah
memotong lengan baju kaos sebagai pengganti
gombal] dan minyak tanah dibakar kemudian
dimatikan sehingga asapnya bisa mengusir
nyamuk , Gosokkan sedikit garam pada bekas
gigitan nyamuk
Laron ; Mengusir laron yang terlalu banyak
dengan cabe yang digantungkan
Disengat Lebah ; Oleskan air bawang merah pada
luka bekas sengatan berkali-kali,
Tempelkan tanah basah/liat di atas luka
sengatan, Jangan dipijit-pijit, Tempelkan
pecahan genting panas di atas luka, Olesi
dengan petsin untuk mencegah
pembengkakan
Gigitan Lintah ; Teteskan air tembakau pada
lintahnya, Taburkan garam di atas
lintahnya, Teteskan sari jeruk mentah pada
lintahnya, Taburkan abu rokok di atas
lintahnya, Membuang [mengais] lintah upayakan
dengan patahan kayu hidup yang ada
kambiumnya.
Semut Gatal ; Gosokkan obat gosok pada luka
gigitan, Letakkan cabe merah pada
jalan semut, Letakkan sobekan daun sirih pada
jalan semut
Kalajengking dan lipan; Pijatlah daerah sekitar
luka sampai racun keluar, Ikatlah
tubuh di sebelah pangkal yang digigit, Tempelkan
asam yang dilumatkan di atas
luka, Taburkan serbuk lada dan minyak goreng
pada luka, Taburkan garam di
sekeliling bivouck untuk pencegahan
Ular dll ; Untuk mencegah dan mengobati secara
darurat gigitan dan sengatan
binatang berbisa mematikan harus mempelajari
Emergency Medical Care [EMC]
Membaca Jejak
Ada beberapa jenis jejak yang dapat
diidentifikasi, yaitu jejak buatan, maksudnya
adalah jejak yang dibuat oleh manusia dan jejak
alami yaitu tanda jejak sebagai
tanda keadaan lingkungan.
Jejak alami biasanya menyatakan tentang jenis
binatang yang lewat dan ada
disekitar, arah gerak binatang, besar kecilnya
binatang, cepat lambatnya gerak
binatang. Untuk membaca jejak alami [binatang]
dapat diketahui dari telapak yang
ditinggalkan, kotoran yang tersisa, pohon atau
ranting yang patah, lumpur atau
tanah yang tercecer di atas rumput.
Air
Seseorang dalam keadaan normal dan sehat
dapat bertahan sekitar 20 – 30 hari tanpa
makan, tapi orang tersebut hanya dapat bertahan
hidup 3 – 5 hari saja tanpa air.
Ada air yang tidak perlu dimurnikan, seperti air
hujan langsung. Untuk memperoleh
air hujan langsung dalam keadaaan sirvive di
alam bebas, maka dapat dengan cara
memampung dengan ponco atau daun yang lebar
dan alirkan ke tempat penampungan
[nesting atau phipless]
Air dari tanaman rambat/rotan atau bambu. Cara
memperolehnya, yaitu potong
setinggi mungkin lalu potong pada bagian dekat
tanah, air yang menetes dapat
langsung ditampung atau diteteskan ke dalam
mulut.
Selain rotan, bambu dan tumbuhan rambat, air
juga dapat diperoleh pada bunga
(kantung semar) dan lumut.
Air yang harus dimurnikan terlebih dahulu antara
lain adalah air sungai besar, air
sungai tergenang, air yang didapatkan dengan
menggali pasir di pantai (+ 5 meter
dari batas pasang surut). Untuk mendaptkan air
di daerah sungai yang kering,
caranya dengan menggali lubang di bawah
batuan
Berikutnya air juga dapat diperoleh dari batang
pisang, caranya tebang batang
pohon pisang, sehingga yang tersisa tinggal
bawahnya [bongkahnya] lalu buat lubang
ditengahnya maka air akan keluar, biasanya
dapat keluar sampai 3 kali pengambilan.
Makanan / Sosiologi Botani :
Dalam kondisi hidup dialam bebas ada berbagai
makanan yang dapat di konsumsi,
tetapi harus memperhatikan beberapa syarat dan
patokan berikut :
• Makanan yang di makan kera juga bisa di
makan manusia
• Hati-hatilah pada tanaman dan buah yang
berwarna mencolok
• Hindari makanan yang mengeluarakan getah
putih, seperti sabun kecuali sawo
dan pepaya.
• Tanaman yang akan dimakan di coba dulu
dioleskan pada tangan, lengan, bibir
dan atau lidah, tunggu sesaat. Apabila terasa
aman bisa dimakan.
• Hindari makanan yang terlalu pahit atau asam
Peringatan :
Hubungan air dan makanan; Untuk makanan yang
mengandung karbohidrat memerlukan air
yang sedikit, Makanan ringan yang dikemas akan
mempercepat kehausan, Makanan yang
mengandung protein butuh air yang banyak.
Tumbuhan yang dapat dimakan dapat diketahui
dari ciri-ciri fisik, misalnya :
Permukaan daun atau batang yang tidak berbulu
atau berduri, tidak mengeluarkan
getah yang sangat lekat, tidak menimbulkan rasa
gatal, hal ini dapat dicoba dengan
mengoleskan daunnya pada kulit atau bibir dan
tidak menimbulkan rasa pahit yang
sangat [dapat dicoba di ujung lidah]
Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan
berupa batangnya :
• Batang pohon pisang (putihnya)
• Bambu yang masih muda (rebung)
• Pakis dalamnya berwarna putih
• Sagu dalamnya berwarna putih
• Tebu
Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan
berupa daunnya :
• Selada air
• Rasamala (yang masih muda)
• Daun mlinjo
• Singkong
Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan
berupa akar dan umbinya :
Ubi jalar, talas, singkong
Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan
berupa Buahnya :
Arbei, asam jawa, juwet
Tumbuhan yang dapat dimakan seluruhnya :
• Jamur merang, jamur kayu.
Tetapi ada beberapa jenis jamur beracun yang
ciri-cirinya adalah :
• Mempunyai warna mencolok
• Baunya tidak sedap
• Bila dimasukkan ke dalam nasi, nasinya
menjadi kuning
• Sendok menjadi hitam bila dimasukkan ke
dalam masakan
• Bila diraba mudah hancur
• Punya cawan/bentuk mangkok pada bagian
pokok batangnya
• Tumbuh dari kotoran hewan
• Mengeluarkan getah putih
Selain tumbuhan, berbagai hewan yang
ditemukan di alam dapat dimakan juga,
misalnya Belalang, Jangkrik, Tempayak putih
(gendon), Cacing, burung, Laron,
Lebah, larva, Siput/bekicot, Kadal [bagia
belakang dan ekor], Katak hijau, Ular
[1/3 bagian tubuh tengahnya], Binatang besar
lainnya.
Ada beberapa ciri binatang yang tidak dapat
dimakan, yaitu :
• Binatang yang mengandung bisa : lipan dan
kalajengking
• Binatang yang mengandung racun : penyu laut
• Binatang yang mengandung bau yang khas :
sigung / senggung
Api
Bila mempunyai bahan untuk membuat api, yang
perlu diperhatikan adalah jangan
membuat api terlalu besar tetapi buatlah api
yang kecil beberapa buah, hal ini
lebih baik dan panas yang dihasilkan merata.
Cara membuat api dalam keadaan darurat :
• Dengan lensa / Kaca pembesar ; Fokuskan
sinar pada satu titik dimana
diletakkan bahan yang mudah terbakar.
• Gesekan kayu dengan kayu ; Cara ini adalah
cara yang paling susah, caranya
dengan menggesek-gesekkan dua buah batang
kayu sehingga panas dan kemudian
dekatkan bahan penyala, sehingga terbakar
• Busur dan gurdi ; Buatlah busur yang kuat
dengan mempergunakan tali sepatu
atau parasut, gurdikan kayu keras pada kayu lain
sehingga terlihat asap dan
sediakan bahan penyala agar mudah tebakar.
Bahan penyala yang baik adalah kawul /
sabut terdapat pada dasar kelapa, atau daun
aren
Survival kits
Survical kits adalah perlengkapan untuk survival
yang harus dibawa dalam
perjalanan sebagai alat berjaga-jaga bila terjadi
keadaan darurat atau juga dapat
digunakan selama perjalanan.
Beberapa contoh survival kits adalah :
• Mata pancing /kait
• Pisau / sangkur / vitrorinoc
• Tali kecil
• Senter
• Cermin suryakanta, cermin kecil
• Peluit
• Korek api yang disimpan dalam tempat kedap
air [tube roll film]
• Tablet garam, norit
• Obat-obatan pribadi
• Jarum + benang + peniti
• Ponco / jas hujan / rain coat
• Lain-lain
Pembelajaran dari mendaki gunung
Mendaki gunung, apa enaknya, ….. apa
hikmahnya
Enaknya …… menikmati pemandangan
mengagumi kebesaran sang pencipta.
Dapat dibayangkan gunung yang begitu gagahnya
serta menjulang dengan ketinggiannya
… yang tersebar diseluruh dunia, dengan
bermacam bentuk dan ukuran menandakan
betapa dahsyat, betapa hebat, betapa maha ….
Sang pencipta.
Manakala kita berada di puncak gunung, kecil
kita ….. segala kesombongan,
keangkuhan, keserakahan akan sirna, bagaikan
debu di tiup angin …… hilang tanpa
ada bekas.
Mendaki gunung memberikan hikmah yang begitu
dahsyat ….
Disadari atau tidak kita dapat belajar segala hal
dalam mendaki gunung, rasa
persaudaran, persahabatan yang kian kental,
kemandirian yang kita peroleh, tidak
mudah menyerah, rasa ego yang kian menipis
dalam diri, rasa syukur yang makin
tebal.
Mungkin masih teringat dalam benak, disaat kita
belum pernah mendaki gunung …..
emosi kita suka meluap, manakala pulang
sekolah atau main dari rumah sahabat,
perut lapar…. Dirumah hanya dihidangkan oleh
ibunda tercinta nasi dengan lauk
alakadarnya, kita marah, kita hilang selera
melihat hidangan yang alakadarnya ……
Setelah mengalami hal yang mengharuskan kita
bertahan hidup dalam pendakian ……
makan apapun yang ada dialam, ataupun makan
nasi yang masih kurang matang, atau
lauk yang lebih apa adanya dibanding waktu
dirumah di bagi dengan kawan
sependakian. Tentunya menyesal kita telah
menyia-nyiakan masakan ibunda tercinta
yang sudah menyiapkan makan untuk anak nya
tercinta dengan penuh kasih saying,
hanya karena hidangan yang apaadanya.
Masih terlalu banyak pembelajaran dari mendaki
gunung.
Terimakasih Allah engkau telah berikan pelajaran
berharga, dari ciptaan Mu gunung
yang begitu indah yang bukan hanya untuk
dinikmati oleh mata tetapi harus
dinikmati oleh hati nurani yang paling dalam
serta menjaganya agar dapat
memberikan pelajaran bagi generasi yang akan
datang.

No comments:

Post a Comment